Berguru Sajian Kopi Tradisional

Berguru Sajian Kopi Tradisional

Kopi selalu dicari, dari anak muda hingga orang tua. Kopi jadi teman di meja ketika ngobrol, bahkan kopi merupakan bisnis yang tak akan henti. Dari angkringan hingga kedai yang mewah, bisa dikatakan kopi jadi selera rakyat.
Dalam dunia bisnis ada idealis konsep tapi jangan sampai lupa akan selera konsumen. Selera konsumen itu perlu bidikan yang tepat, meramu atau memadukan kopi dengan es, atau susu. Perpaduan tentunya akan jadi ciri masing masing kedai kopi dan justru disitulah akan muncul ciri khas antar satu kedai satu dan yang lainnya.
Penulis kali ini berguru dengan Guspur, siapa yang tidak tahu beliau. Sosok yang ahli memainkan sajian kopi secara tradisional, dengan rasa yang melekat di lidah konsumen. Guspur panggilan yang akrabnya disapanya, owner dari Kopi Tarik Ungaran.
Sudah lama penulis janjian sama Guspur, tapi baru sempat berkunjung ke padepokannya. Tepatnya hari Kamis, 26 April 2018 baru bisa silaturahmi ke Omah Kopi Guspur.
Guspur ternyata memiliki padepokan, di Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Penulis sebut padepokan karena kedepan tempat ini mau dijadikan semacam sanggar. Dari obrolan dengan Guspur nanti tempatnya bisa untuk semacam pameran produk tapi letaknya di desa, dan masyarakat bisa terlibat langsung.
Pedepokan yang bangunan utama dari kayu dengan bentuk Rumah Joglo ini, menambah suasana semakin nyaman, apalagi terdengar alunan musik gending-gending Jawa. Bangunan yang disekitarnya ada banyak pohon keras seperti sengon dan lainnya, terlihat juga pohon kelapa ketika angin berhembus semakin menambah sejuknya udara disekitarnya.
Obrolan tentang kopi dan lainnya menghanyutkan suasana hingga sore. Penulis mohon pamit dengan sang empunya, dan bagi yang penasaran dengan Guspur serta racikannya silakan kunjungi padepokan tersebut atau langsung datang ke kopi tarik Ungaran.
Penulis ucapkan terimakasih atas ilmunya dan jamuannya, itulah “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”.

Cerita, Bersenyum Bahkan Tertawa Dengan Petani Di Lampung

Cerita, Bersenyum Bahkan Tertawa Dengan Petani Di Lampung

Seminggu yang lalu penulis dapat kontak dari tim Afoco (Asean-Korea Forest Cooperation). Dia cerita kegiatannya, yaitu pendampingan petani di wilayah KPH Lampung. Pendampingan tersebut bekerjasama dengan Pusat Litbang Kehutanan.
Kegiatan agroforestry salah satunya ada tanaman kopi, “o ya saya dapat info dari teman katanya Pak Mukidi petani kopi ya,” begitu kata tim Afoco. Penulis jawab “ya, petani biasa yang terapkan konsep petani mandiri”.
“apakah Bapak berkenan kalau minggu depan ngisi kegiatan kami, membagikan pengalamannya di petani Lampung,” begitu suara via phone. “o ya saya cek dulu kalendernya,” jawab saya. “minggu depan saya kosong,” jawab penulis,setelah melihat jadwal kegiatan.
Akhirnya ditentukan jadwal penulis harus berangkat ke Lampung tanggal 9 – 12 April 2018. Perjalan Jogja – Lampung mundur 2 jam, Alhamdulillah walaupun malam sampai di hotel wilayah Lampung. Baru pagi hari bisa ketemu tim Afoco sa’at makan pagi dan ngobrol tentang pelatihan dan jarak dari Kabupaten Pringsewu ke Desa yang ditempuh kurang lebih 1 ½ jam. Waktu tempuh yang lama ini sehingga menjadikan pilihan karena hari berikutnya harus mengisi materi berikutnya.
Usai makan pagi, tepatnya 07.30 wib, berangkat ke lokasi pelatihan. Perjalan kelokasi sambil melihat pemandangan dan komuditas ada karet, coklat, padi. Dari apa yang terlihat ini membuktikan bahwa Lampung merupakan wilayah yang subur. Melihat nama-nama penunjuk wilayah penulis tidak asing dengan namanya, karena hampir namanya persis dengan nama daerah di Jawa, ada Sukoharjo, Banyumas dan lainnya.
Sopir yang jemput penulis saja bahasa Jawanya juga sangat mahir. Suasana keakraban semakin terjadi, bahkan sopir cerita nanti kita didesa bisa pakai 3 bahasa, bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda, kalau Bapak bisa bahasa Lampung jadi 4 bahasa.
Perjalan lebih dari yang direncanakan, dan sampailah di Desa Sumber Bandung Kecamatan Pagelaran Utara Kabupaten Pringsewu. Dilokasi pelatihan petani sudah berkumpul dan beberapa dari KPH Batutegi. Pelatihan dimulai yang membuka acara dan memberi sambutan dari KPH Batutegi, dalam sambutan agar nanti materi pelatihan tentang kopi harus bisa diimplementasikan dilokasi sini.
Sambutan berikutnya dari Pusat Litbang Hutan, bahwa kita menghadirkan ahli kopi semoga nanti ilmunya bisa diserap dan diimplementasikan serta produksi kopi bisa meningkat sehingga akan berdampak untuk kesejahteraan petani.
Hadir juga dari Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Hadirnya dinas terkait tingkat provinsi merupakan apresiasi yang luar biasa terhadap petani. Materi tentang konsep kemandirian petani merupakan pembuka, karena kopi output dari konsep petani mandiri.
Diskusi terjadi usai paparan konsep petani mandiri, bagaimana mulai dan lainnya. Terlihat begitu antusias peserta dengan banyaknya yang bertanya. Penulis coba jelaskan mulai itu berat dan lebih berat adalah menjaga agar selalu konsisten. Karena ketika awal tidak pernah orang melirik bahkan dicibir, bagaimana sebenarnya menganggap bahwa cibiran itu bentuk motivasi.
Paparan berikutnya tentang budidaya kopi, perawatan serta paska panen. Inipun tak kalah seru diskusinya, penulis coba jelaskan jangan sampai mengurangi atau mengalahkan tanaman wajib dari KPH, atau melanggar kerjasama yang telah disepakati. Oke besuk kita lihat kondisi di Lapangan.
Hari berikutnya jadwal kunjungan ke hutan, melihat kondisi pohon kopi dan mempraktekkan pangkas kopi. Terlihat pohon kopi belum maksimal perawatannya. Pohon sekitar kopi ada coklat, mrica dan pala. Luasannya juga tidak sedikit setiap satu orang mempunyai lahan garap rata-rata 1 ha, sungguh luas biasa.
Diskusi di hutan juga seru, karena ada perbedaan nama lokal tentang kopi. Bahkan nama kopi itu mereka kasih nama sesuai dengan yang bawa pertama kali. Penulis coba asumsikan setiap pohon bisa hasilkan berapa mulai dari kopi, pisang dan lainnya. Kalau ini dikelola dengan bagus dan baik pasti mempunyai nilai nominal yang luar biasa.
Sudah dipandang usai tentang proses dikebun dari pangkas dan konservasi diskusi dilanjut setelah makan siang dengan tema yang berbeda. Tema selanjutnya adalah sortasi biji kopi, sortasi ini untuk pisahkan biji yang utuh, pecah, hitam dan lanang. Usai sotasi dilanjut praktek sangrai manual, dengan apa yang ada di desa. Penulis coba jelaskan tanda-tanda kopi sudah matang pas sangrai. Dua kali praktek sangrai dengan hasil yang sama dari hasil kopi sortasi yang utuh dan yang hitam. Ini semua nanti untuk pembeda rasa dan aroma, mana yang menurut bapak-bapak hasilnya bagus.
Materi terakhir coba icip kopi hasil sangrai manual, menurut petani warnanya beda. Karena petani dan masyarakat biasanya kalau sangrai hitam sehingga paitnya sangat tajam. Icip dua kopi yang utuh dan hitam ternyata aroma berbeda dan rasanya, pilihan ternyata jatuh pada kopi yang utuh banyak diminati.
Diskusi sebelum penutupan sangat seru, bagaimana alur bisnisnya, bahkan kalau bikin kopi selera rakyat. Penulis selalu bilang ini idealis dan karakter kopi, bicara bisnis perkopian lihat selera konsumen. Petakan konsumen butuhnya apa, ya kita harus sediakan.
Kesan dan pesan yang mengharukan bahkan ada yang serius, canda tawa jadi sebuah keakraban. Inilah bukti secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta. Tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada tim Afoco, Puslitbang Hutan, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan KPH Batutegi, dan tak lupa kepada peserta semuanya akhirnya salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

Terjun Dan Belajar Bersama Petani

Terjun Dan Belajar Bersama Petani

“ingin tahu persis seperti apa bertani, dan selama ini teman-teman kalau magang selalu ke perkebunan, ini yang membuat saya tertarik untuk belajar dengan petani,” jelas Muhammad farid.
Itu merupakan kutipan ketika Muhammad Farid datang pertama antarkan proposal di Rumah Kopi Mukidi. Muhammad Farid yang lahir di Surakarta, 04 April 1997, mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta. Mahasiswa Fakultas Pertanian program studi agroteknologi, juga hobby membaca,menulis dan memainkan alat musik.
Dari obrolan ingin tahu persis bagaimana dari tanam kopi sampai siap seduh. Penulis coba jelaskan bahwa kegiatan diperkopian yang dilakukan saat ini merupakan bentuk implementasi dari konsep kemandirian bertanian. Olahan lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komuditas di lahan, membuat produk jadi, hingga pemasaran.
Konsep itu merupakan pola contoh, bahkan Farid begitu panggilan akrabnya ingin praktek langsung bagaimana olah lahan sesuai kaedah konservasi dan tahap berikutnya. Farid ingin tahu detail bagaimana buat lubang tanam kopi, jarak tanam dan lainnya.
Penulis mengajak farid ke kebun dengan jarak kebun dari Rumah Kopi Mukidi sekitar 3 km. Perjalan ke kebun KOPI MUKIDI ditempuh dengan sepeda motor, tapi masih harus disambung dengan jalan kaki.
Sambil bawa bibit kopi, cangkul dan pupuk organik penulis dan farid berboncengan seperti petani biasanya. Seragam kebun penulis caping dan iket tak ketinggalan.
Pembuatan lubang tanam, penulis memberikan contoh kepada Farid. Dia tidak tinggal diam, tapi juga mempraktekkannya. Penulis menjelaskan bahwa bagaimana di lahan yang sudah ada tanamannya tetap bisa melakukan olah lahan sesuai kaedah konservasi.
Kunjungan lahan satu dan lainnya pasti akan mempertajam temuan permasalahan. Serta obrolan dengan banyak petani semakin bisa menganalisa persoalan ditingkat petani.

Kunjungan Dan Berbagi

Kunjungan Dan Berbagi

Study banding merupakan hal yang sangat cepat untuk proses belajar. Karena proses belajar tidak hanya sekedar teori tapi bisa melihat langsung. Proses melihat itu bisa menimbulkan daya pikir yang luar biasa.
Minggu terakhir Bulan Maret 2018, Kopi Mukidi mendapat kehormatan karena bisa dikunjungi dari 2 Instansi berbeda dengan wilayah yang berbeda juga. Pada tanggal 27 Maret 2018, mendapat kehormatan kunjungan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bogor dengan beberapa petani dan penyuluh lapangan dari Kota Hujan tersebut.
Kunjungan ini melihat langsung proses produksi kopi, tentunya bagaimana awal mulai merintis sebuah usaha perkopian. Konsep kemandirian ini yang penulis sampaikan, idealisme atau mimpi untuk maju dari pelosok desa.
Konsep kemandirian mulai dari olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas hingga sampai pasar ini selalu disampaikan. Karena itu awal mulainya, pola contoh itulah yang penulis terapkan.
Bagaimana penulis mulai menanam kopi, ketika tanam tidak ada yang tanya, hingga 3 tahun kopi mulai berbuah baru ada yang bertanya. Semua itu penulis sampaikan, tidak bermaksud lain kecuali sebagai bentuk membangun semangat betapa sulitnya ketika mulai dan belum dilihat oleh orang lain.
Tantangan internal dan bagaimana ketabahan untuk melakukannya. Waktu yang sempit sehingga tidak sempat untuk praktek yang lainnya. Tak lupa penulis sampaikan terimakasih kepada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan dari Bogor dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung.
Temanggung untuk kopinya bisa dibilang tanaman yang lahannya luas di wilayah Jawa Tengah. Kopi Temanggung juga sudah dikenal sampai luar negeri. Kopi Temanggung juga sudah memiliki Indikasi Geografis baik itu yang arabika maupun yang robusta.
Hari berikutnya tepatnya tanggal 28 Maret 2018, Rumah Kopi Mukidi juga dapat kunjungan dari sedulur LMDH dari wilayah Tawangmangu. Lembaga masyarakat desa hutan itu difasilitasi dari Dinas lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan BKSDA Jawa Tengah dan KPH Surakarta.
Kunjungan yang dari sedulur LMDH ini mungkin agak beda bagaimana harus menjelaskan karena masyarakat desa hutan ini belum tanam kopi. Tak lupa penulis selalu sampaikan bahwa kopi itu merupakan langkah mewujudkan mimpi kemandirian bertanian, dan merupakan pola contoh.
Karena masyarakat atau petani di desa itu perlu sebuah contoh, bentuk nyata kegiatan hingga ada nilai tambah ekonomi pasti nanti bertahap akan akan yang mengikuti. LMDH yang berjumlah 30 peserta dengan didampingi dari dinas yang sudah disebut tadi, begitu antusias mendengarkan paparan dari penulis.
Tahapan dari proses kopi penulis jelaskan, dari tanaman hingga kemas bubuk kopi, bahkan angka untuk membangun mimpi penulis sampaikan dengan populasi yang diperbolehkan untuk tanam dilahan Perhutani. Penulis selalu berprinsip bahwa membangun mimpi itu dengan angka.
Usai Teori langsung praktek dengan mesin pengupas kulit kopi basah. Diproses basah ini penulis jelaskan nama alatnya, sampai melihat atau membedakan kopi yang bagus dan kurang bagus. Kopi yang mengapung untuk dipisahkan karena kurang bagus, sedangkan yang tenggelam itulah kopi yang bagus.
Setelah direndam dan dicuci lalu dijemur. Setelah jemur sampai kering baru masuk pada tahap selanjutnya adalah pengupasan kulit tanduk kopi dengan mesin huller, untuk mendapatkan biji kopi atau bean.
Tahapan selanjutnya adalah sortasi biji kopi secara manual atau mesin. Sortasi ini bertujuan untuk memisahkan biji utuh, pecah, hitam dan kopi lanang. Tahapan selanjutnya petani atau anggota lmdh yang berkunjung ke Rumah Kopi Mukidi melihat proses sangrai kopi.
Semua proses atau runtutan praktek mereka lakukan dengan semangat. Penulis perlihatkan awal mulai merintis usaha untuk sangrainya pakai gerabah atau kuali. Setelah runtutan acara diikuti ditutup oleh perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah.
Untuk penyemangat dan untuk praktek mereka anggota LMDH diberikan bibit kopi arabika untuk mulai menanam di Lahan Perhutani. Karena untuk membuktikan mimpi dari hasil dari kopi harus mulai dari menanam. Mengikuti sebuah proses itu bentuk dari konsistensi.
Itulah perjalanan dari bukti dari “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara,dan penuh cinta” dan tak lupa “salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi”.

Berguru di Lembah Posong

Berguru di Lembah Posong

Pagi itu tepatnya dalam hari pasaran Jawa tepatnya hari Jum’at Kliwon. Tepatnya tanggal 16 Maret 2018, pagi hari kurang lebih jam 05.30 penulis keluar rumah menuju tempat pak Tuhar selaku sosok petani dan Ketua MPIG Kopi Java Arabika Simdoro Sumbing.
Perjalanan dari rumah penulis sampai ke Rumah Pak Tuhar tidak begitu lama, sepeda motor paling 20 menit. Pagi itu penulis uluk salam dengan bahasa jawa kulon nuwun. “wah kok mruput banget koyo padat banget jadwal e” khas bahasa pak tuhar. Artinya kurang lebih begini kok pagi banget sepertinya jadwalnya padat, kata pak Tuhar.
Obrolan orang desa kalau pagi hari pasti ditemani cemilan dan ketan goreng. Ngobrol kabar dan perkembangan kopi pasti karena siapa yang tidak kenal dengan sosok pak Tuhar. Pak Tuhar baru saja, selesaikan tempat untuk proses kopi dan saya diajak untuk melihatnya.
Unit pengolah kopi yang didepannya dijadikan tempat pembibitan kopi arabika sungguh menarik. Jenis arabika yang dibibitkan komasti, biji dari Jember. Penulis diajak untuk naik ke lantai 2, yang digunakan untuk tempat jemur kopi yang sudah dinaungi dengan plastik sehingga nantinya pas jemur ketika hujan aman.
Pak Tuhar memang kreatif, terlihat sebelum untuk jemur kopi digunakan untuk jemur bawang putih karena pas panen. Obrolan dilanjutkan ke tempat produksi, belum lama duduk Pak Tuhar mengajak untuk melihat kebun yang pernah buah shooting film Filosofi Kopi.
Kebun seluas 1 ha, dan ada bangunan semi permanen dikeliling kebun kopi dengan konsep pola Thahap. Pola tersebut memadukan tanaman semusim dan kopi dengan jarak yang diatur.
Setelah keliling di kebun kopinya, kini penulis diajak naik ke Posong. Perjalanan ke atas Posong, di kanan kiri terlihat pemandangan yang menakjudkan tanaman kopi yang sudah berbuah dan tertata jaraknya.
Sampai taman posong dan masuk penulis diajak keliling dan diberi cerita hamparan luasnya wilayah Tlahap. Pak Tuhar cerita bahwa luas wilayah itu karena nenek moyong atau orang tua dulu semangat untuk babat alang alang. Konon dulu yang babat rumput luas maka wilayahnya semakin luas. Dan bikin tertawa bersama, Pak Tuhar dalam memberi semangat tidak hanya disitu.
Penulis diajak keliling jalan yang trasah yang ada di wilayah tegalan Tlahap. Turun kembali menuju lahan Pak Tuhar, sebelum sampai lahannya ada jalan lain dan penulis diajak memutarinya.
Ternyata lewat lahan Pak Zaenal yang sudah lama penulis tidak ketemu dan baru panen bawang putih. Obrolan dilahan tak lain ditemani tingwe yang merupakan khas dari petani yang ada di lereng Sumbing Sindoro.
Obrolan selesai lanjut perjalanan pulang dengan jalan yang belum ditrasah dan gantian joki sepedanya. Pak Tuhar jadi supir sepedanya karena jalannya licin, namun kerena keahlian dan biasa lewat lokasi yang biasa saja.
Tidak sengaja perjalan pulang, ternyata ketemu dengan Pak Pariyanto dan Pak Tri yang mau naik ke Taman Posong. Dan kita akhirnya naik lagi ke Posong, obrolan semakin menarik. Penulis yang sudah lama tidak ketemu dengan Pak Pariyanto kurang lebih 3 tahun, merupakan suatu kebahagian tersendiri.
Hampir 2 jam di taman Posong cerita tentang kopi, prospek, hingga kelembagaan MPIG KAJSS. Karena sudah agak siang diputuskan untuk turun, e e sampai di jalan raya ketemu dengan Pak Yamidi. Kami akhirnya mampir dan ngobrol tentang kelembagaan MPIG, ditemani secangkir kopi.
Tiba-tiba hp Pak Tuhar berdering, dan ternyata penulis dikontak untuk segera pulang karena sudah ditunggu tamu. Karena ketika keluar kadang penulis tidak bawa hp, dan akhirnya penulis berpamitan pulang dan sebelumnya harus antar pak Tuhar.
Guru dan inspirasi itu bisa datang dari siapa saja, termasuk dari teman dan kerabat dekat kita. Kalau penulis bilang itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Suwaji, Dengan Kebun Entres Temanggung

Dari grup media perkebunan penulis melihat poto yang terpasang. Penulis mencoba mengingat ternyata dari poto itu penulis mengenal bahkan pernah belajar tentang pemangkasan kopi. Penulis mencoba telusuri sosok sang guru dan ingin bersilaturahmi.
Info yang didapat sekarang sosok itu bernama Suwaji 57 tahun, dan bertanggung jawab di kebun entres kopi. Kebun entres milik Dinas Perkebunan Temanggung ini luasnya 1,4 ha.
Tiga tahun yang lalu ketemu, namun penulis kenal dan belajar pangkas kurang lebih 12 tahun di kebun pangkas Maron Temanggung. Kini kebun pangkas pindah ke Medari, yang dulu jadi tempat untuk kultur jaringan. Ketika gedung difungsikan untuk kultur jaringan penulis juga pernah belajar juga di lokasi setempat.
Penulis bikin janji via wa untuk ketemu di kebun entres kopi robusta. Pemandangan begitu masuk lokasi kebun entres, terlihat benih yang arabika yang siap tanam. “benih arabika ini dibagikan gratis ke kelompok tani,” katan pak Suwaji.
Sambil ngobrol daFoto Mukidi Mukidi.n penulis masih teringat ketika dulu belajar tentang kultur jaringan bahwa ada salah satu kopi arabika ditanam. Foto Mukidi Mukidi.“Tapi sekarang sudah tidak ada, karena memang sini khusus dijadikan kebun entres robusta,” jelasnya
Sambutan Pak Suwaji yang ramah dan mengajaknya untuk melihat pengembangan pembibitan dari stek akar. “stek akar ini nanti pada bulan nopember sudah bisa cabang dan setahun berikutnya sudah buah, lebih cepat dari sambung,” begitu paparnya.
Terlihat Pak Waji begitu panggilan akrabnya dibantu oleh beberapa karyawan yang bikin pembibitan. Terlihat ditempat pembibitan ada 4 ibu-ibu yang oper spin stek akar dan 2 bapak yang campur tanah dengan pupuk.
Luasan tanam kopi terbesar di Jawa Tengah sehingga sangat wajar kalau Temanggung mempunyai kebun entres. Bahkan sering kewalahan ketika ada permintaan bersama.

“Kebun entres ini juga bisa digunakan untuk proses belajar kelompok, tapi harus mengajukan permohonan dulu ke dinas,” jelasnya. Pak Waji juga menyampaikan kalau petani yang lahannya cocok untuk tanam kopi arabika bisa untuk penguat teras, sekaligus penyerapan air dan sebagai ekonomi jangka panjang.

Yamidi, Santun Dengan Kopi

Yamidi, Santun Dengan Kopi

Penuh semangat saya keluar dari rumah, untuk datang ke rumah sosok petani yang ahli dalam berkebun kopi. Dari wilayah Bulu saya menuju ke wilayah Kledung tepatnya di Desa Tlahap untuk bertemu dengan Yamidi, 46 tahun.
Petani yang juga dapat penghargaan lingkungan ini merupakan salah satu pengurus MPIG KAJSS dalam seksi budidaya. O ya MPIG KAJSS merupakan kepanjangan dari masyarakat perlindungan indikasi geografis kopi arabika java sindoro sumbing.
Dalam satu organisasi yang sama merupakan hal untuk saling mengisi tentang banyak hal dalam dunia perkopian. Penulis yang menerapkan konsep kemandirian petani masih banyak belajar dalam hal pemeliharaan kopi. Penulis sangat bahagia bisa ketemu dengan sosok yang santun dalam melakukan kopi.
Penulis membuktikan sendiri melihat kebun milik Pak Yamidi yang ada di Tlahap Kledung Temanggung. Dari ketertarikan dan niat untuk meningkatkan produksi maksimal harus dilakukan pemangkasan maka penulis berniat untuk secepatnya mempraktekkan di kebun miliknya.
Tepatnya kemarin selasa, 6 Maret 2018 penulis buat janjia untuk berkunjung ke kebun. Proses belajar memprakteknya dan mengenali beberapa cabang yang harus dibuang, mulai dari tunas air, cabang kipas dan lainnya.
Yamidi sosok yang santun dalam memperlakukan kopi ini begitu detail dalam mempraktekkan pangkas cabang. “kopi kuwi kudu tegel dan seni dalam pangkas kopi itu harus tega dan harus ada seninya, artinya harus berani membuang cabang yang tidak berguna, sehingga ada seni pohon yang bisa dilihat dan akhirnya buahnya akan bagus,” begitu jelasnya.
Yamidi berkeliling memberikan contoh kepada penulis tentang pangkas kopi yang masih kecil hingga kopi yang sudah produksi. Mengeliling kebun yang populasi tanaman sudah hampir 1000 batang bikin betah apalagi dengan sosok petani yang ahli dibudidaya dan santun memperlakukan kopi.
Waktu 3 jam serasa hanya 30 menit karena begitu nikmatnya suasana dikebun, apalagi kebunnya ada curug tadah hujan. Banyak memberi masukan sosok Yamidi agar kebun kopi penulis bisa kejar 10 bahkan 40kg dengan pemupukan yang sempurna.
Waktu sudah jelang siang dan penulis juga sudah ada janjian dengan orang lain sehingga harus pindah juga ke kebun yang lain. Penulis mengajak Pak Yamidi untuk melihat kebun petani yang tanpa dilakukan pemangkasan apapun.
Sayang petani yang lain tidak lagi di kebun, namung terlihat sekali mimik Yamidi begitu melihat kebun yang tanpa perlakuan pemangkasan. Geleng kepala merupaka pertanda menyayangkan pohon yang populasinya banyak kok tidak kurang perawatan.
Tanda dari mimik dan gelengan kepala itu merupakan bentuk reaksi sosok yang santun dalam merawat kopi. Begitulah bentuk bentuk refleksi orang yang sudah terbangun kepekaan dan kecintaan terhadap pohon kopi. Semoga semakin banyak petani-petani yang santun dalam memperlakuan kopi, sehingga berdampak pada hasil dan bisa meningkatkan kesejahteraannya.

Cara MPIG KAJSS Berbagi

Cara MPIG KAJSS Berbagi

Minggu pon bagi petani yang tergabung dalam MPIG KAJSS merupakan hal yang paling bahagia. Hari ini merupakan ajang ketemu untuk bedah pengetahuan dari banyak hal terkait dengan perkopian.
Minggu pon kali ini jatuh pada tanggal 4 Maret 2018, dan pertemuan di salah satu anggota MPIG KAJSS, tepatnya di rumah Pak Didik Dusun Sangkon, Desa Tuksari, Kecamatan Kledung.
Pertemuan dimulai kurang lebih jam 14.00 wib, pembukaan dibawakan oleh salah satu anggotan MPIG KAJSS dengan rututan acara sambutan tuan rumah. “saya mengucapkan selamat datang dan terimakasih atas kedatangannya dan semoga pertemuan seperti ini membawa manfaat bersama” begitu papar Didik selaku tuan rumah, dan bendahara MPIG KAJSS.
Lanjut acara berikutnya sambutan dari Ketua Umum MPIG KAJSS begitu suara pembawa acara. “Pertemuan rutin ini mari manfaat untuk saling belajar, tentang banyak hal mulai dari budidaya, panen dan proses paska panen jadi bean, dengan banyak pengetahuan tentunya ketika diimplementasikan akan berpengaruh dalam hal harga dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani,”begitu jelas Pak Tuhar.
Acara berikutnya berlanjut agenda yang yang disepakati yaitu tentang teori pemangkasan kopi. Materi kali ini disampaikan oleh seksi budidaya, sosok yang satu ini merupakan petani begitu mahir dan trampil dalam memanfaatkan gunting ketika di kebun kopi. Kemahiran memainkan gunting tersebut ternyata didukung juga dengan pengetahuan atau teori tentang pangkas perkopian.
Pak Yamidi mulai sampaikan pada tinggi berapa kopi itu harus dipangkas dan dengan model pangkas apa. “pangkas bentuk merci, spiral dan payung, ini semua bisa jadi pilihan,” jelas Yamidi.
“pangkas bentuk merci ini akan lebih baik ketika tanaman ini dilakukan pada tanaman masih muda, namun ketika tanaman sudah terlanjut besar karena dibiarkan atau belum pernah paham tentang pemangkasan sebaiknya dipangkas pada ketinggian maksimal yaitu 180cm serta bisa dijadikan pangkas bentuk payung,” paparnya.
“pangkas bentuk itu merupakan pilihan masing-masing pemilik kebun, dan tidak kalah penting ada beberapa jenis satang atau tunas yang harus dipangkas. Seperti cabang-cabang yang tidak berguna :
1. Cabang kipas
2. Cabang balik
3. Cabang Cacing
4. Cabang Pecut
5. Cabang Maling
6. Cabang Lanang
7. Cabang ora atau tunas air.
Itu semua cabang harus dipangkas, karena tidak akan menghasilkan buah yang bagus,”imbuhnya.
Yamidi menjelaskan banyak tentang cabang tersebut dengan banyak gambar. Mulai dari kipas hingga tunas air dengan detail mulai dari dimana cabang itu tumbuh hingga ciri-cirinya. Sambil memaparkan disitu juga terjadi diskusi langsung karena pertanyaan dibuka saat itu juga.
Diskusi merupakan proses saling belajar sehingga akan semua paham itulah organisasi. Lanjut acara selanjutnya adalah tentang organisasi yang disampaikan oleh penulis yang ditunjuk sebagai ketua 2 dalam MPIG KAJSS.
Mukidi mengajak untuk bercermin, atau koreksi terhadap organisasi yang digeluti. Mulai dari sumber daya manusia, bagaimana kemampuan SDM kemampuan dalam perkopian. Komitmen untuk memperbesar organisasi atau yang bisa disebut berintegritas tinggi dengan organisasi.
Bercermin itulah sehingga kita akan bisa selalu tahu kemampuan dan kekurang kita, hingga sampai akan menentukan strategi. Acara selanjutnya lain lain yang langsung dipandu oleh ketua umum pak Tuhar. Pertanyan terkait dengan agenda rutin pelatihan dan materi pertemuan. Semua pertanyaan akan jadi agenda pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Hadir juga dalam pertemua pak Dadi dari Dinas pertanian Kabupaten Temanggung memberikan masukan dan motivasi. Bahwa organisasi harus menyusun program kerja dan pertemuan rutin harus dilakukan. Ini semua tidak luput dari semangat kebersamaan untuk saling belajar tak lupa adalah semangat-semangat pengurus yang luar biasa.
“semangat pengurus untuk membagikan pengalaman tentang kopi dengan anggotanya ini yang menjadi tolak ukur akan majukan organisasi,”jelas pak Dadi. Pertemuan yang disepakati selesai jam 17.00 ternyata tidak bisa karena terjadi diskusi artinya pertemuan itu mengasyikan, termasuk saling berbagi itu juga menyenangkan.

Saling Mengisi Untuk Membangun Kekuatan Ekonomi

Saling Mengisi Untuk Membangun Kekuatan Ekonomi

Kopi Temanggung siapa yang belum kenal? Hampir semua orang sudah tahu. Karena sudah masuk dalam IG, Indikasi geografis. Kopi arabika Temanggung kurang lebih sudah 3 tahun masuk IG, dengan nama Java Arabika Sindoro Sumbing.

Petani yang tergabung dalam MPIG KAJSS bergerak membangun kekuatan. Salah satu bentuk nyata adalah melakukan kegiatan rutin adalah kumpul bareng setiap 35 hari atau slapanan. Kegiatan ini bergilir dimulai dari pengurus dulu.

dokumen grup mpig KAJSS

Tempat yang berjauhan tidak pernah menyurutkan semangat untuk saling belajar. Tidak berhenti di 35 hari saja untuk belajar, bahkan diluar itu grup lewat WA sebagai fungsi untuk menambah wawasan. Seperti dalam hal budidaya, anggota memperlihatkan pohon kopi yang di kebun masing-masing petani.

Poto pohon kopi yang masuk dalam grup dievaluasi bersama, sehingga petani akan semakin paham bagaimana pangkas yang benar dan fungsinya kopi harus dipangkas. Dari obrolan lewat grup WA ternyata harus praktek lapangan untuk perlu pemahaman, sehingga pengurus dengan cepat buat agenda untuk temu lapang.

Temu lapang bertempat di kebun Pak Yamidi, 46 tahun, Desa Tlahap. Pertemuan hari sabtu, 17 Februari 2018 diikuti dari beberapa petani dan semuanya masih muda tak ketinggalan penulis juga hadir untuk belajar.

“Semua GAP (good agricultur prosedur), ketika dilakukan dengan benar, tidak mustahil akan mencapai produktifitas yang maksimal” begitu papar Yamidi. Yamidi begitu trampil memainkan tangan dengan guntingnya untuk mengurangi tunas-tunas yang harus dipangkas.

“pemangkasan bertujuan untuk mengatur pertumbuhan vegetatif tanaman kopi kearah pertumbuhan generatif yang lebih produktif dan memperoleh buah yang banyak,” jelasnya.

Kebun kopi yang untuk praktek pangkas, Yamidi tanam sejak tahun 2000. Dari obrolan kecil kopi yang sudah dipangkas bisa menghasilkan kopi gelondong 10 kg sampai 20 kg. “jangan hanya dipangkas, untuk hasil maksimal perlu nutrisi lho” paparnya.

Kegiatan ini merupakan temu lapang, yang diminati petani. Bahkan ada beberapa petani yang minta agar temu lapang diagendakan rutin. Petani kopi arabika Temanggung yang tergabung dalam MPIG KAJSS semakin kuat. Kuat dalam hal budidaya yang berimbas pada produktifitas tinggi dan mutu yang bagus.

Tentunya dengan mutu bagus akan berimbas dengan harga baik sehingga meningkat pendapatan untuk petani. Kopi arabika yang ada dikebun Pak Yamidi ada line es dan Kartika. Tunggu ya, temu lapang berikutnya, itulah “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”

Dari Kecambah Sampai Ke Cangkir Kopimu

Dari Kecambah Sampai Ke Cangkir Kopimu

Banyak orang tahu kopi ketika sudah jadi secangkir dan hadir di mejanya. Untuk jadi secangkir kopi, perlu sebuah proses panjang. Kali ini penulis ingin sampaikan beberapa proses dari biji kopi berkecambah sampai jadi secangkir kopi.

Pembibitan kopi, membuat bibit ini perlu waktu lama mulai dari ambil biji yang merah, dikupas dan menghilangkan lendirnya. Tahap selanjutnya membuat biji kopi itu berkecambah. Begitu kopi berkecambah mulai dipindahkan pada tempat persemaian.

Pada persemaian akan muncul tunas membutuhkan waktu sekitar 35 – 40 hari. Ketika kopi sudah muncul 4 daun, pindahkan ke polibag yang sudah disiapkan. Jangan lupa ketika dipolibag perlu penyiraman agar bibit kopi bisa tumbuh maksimal dan perlu juga kalau ada gulma harus dibersihkan.

Untuk siap ditanam bibit kopi harus berkayu atau tingginya paling tidak 40cm. Pada ketinggian itu atau syarat itu butuh waktu sekitar 8 bulan, lama juga kan.

Berikutnya menaman bibit yang layak tanam, jangan lupa siapkan lupa tanam. Tentunya pupuk kandang jangan ketinggalan salah satu agar cepat tumbuh. Bibit kopi yang sudah ditanam dari polibag dipindah ke lahan atau kebun perlu perawatan atau pemeliharaan agar bisa baik hasilnya.

Kopi yang sudah ditanam dilahan akan bisa menghasilkan buah pertama mulai dari 2,5 tahun dan tentunya melihat ketinggian tempat tanam. Waktu menunggu bagi petani sangat panjang untuk bisa menikmati ekonomi dari kopi. Kopi akan bisa dipetik buahnya setiap setahun sekali setelah mulai panen. Waktu setahun dari usai panen sampai panen berikutnya perlu pemeliharaan dan pemangkasan.

Dari buah kopi usai petik sampai dari biji ada banyak proses yang harus dilalui. Kebanyakan petani melakukan proses alami atau natural, yaitu petik buah kopi langsung dijemur. Penjemuran untuk natural ini butuh waktu kurang lebih 30 hari ketika tidak ada mendung.

Nah sekarang petani juga banyak melakukan proses yang lain ada Honey dan basah. Untuk proses ini membutuhkan alat bantu yaitu mesin pulper. Dari beberapa proses ketika buah sudah kering, maka dikupaslah sehingga menghasilkan biji kopi, ini dibutuhkan mesin namanya huller.

Usai huller lalu disortasi, untuk memisahkan biji pecah, hitam dan utuh. Proses pemisahan manual sangat diperlukan untuk menghasilkan biji yang standar.

Tahap selanjutnya setelah biji kopi yang sortasi baru kemudian disangrai atau roasting. Usai sangrai baru kopi digrinder jadi bubuk dan diseduh. Tentunya kita bisa membayangkan bahwa kopi yang anda minum ketika mulai dari awal tanam paling tidak butuh waktu 3 tahun. Nah setelah itu baru butuh waktu 1 tahun sebuah proses itu juga pelajaran yang berharga. “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”