fbpx
Tahapan Natural Hingga Secangkir Kopimu

Tahapan Natural Hingga Secangkir Kopimu

Ketika bicara paska panen kopi, sudah pasti proses kopi akan jadi tema yang menarik. Salah satunya adalah proses natural, yang banyak dilakukan petani kopi. Tentunya bagi penikmat kopi atau para pemburu kopi harus tahu tahapan proses tersebut.
Menikmati kopi dengan mengenal proses akan semakin menambah wawasan tentang khasanah perkopian. Natural proses yaitu kopi yang sudah buah merah dan dipetiknya. Proses sortasi usai petik yaitu penyeragaman tingkat kematangan buah.
Perambangan buah tak kalah pentingnya untuk memisahkan buah yang bagus dan kurang bagus. Buah yang bagus tandanya yang tenggelam, pisahkan yang tenggelam dan buah kopi mengapung.
Tiriskan dan jemur buah kopi yang tenggelam. Penjemuran proses natural ini membutuhkan waktu lama, bahkan hingga sampai 30 hari. Ketika sudah benar-benar keringnya baru dilakukan pengupasan kulit, dengan mesin kupas atau huller.
Sortasi bean sebelum disangrai sangat penting. Usai sangrai baru digrinder untuk bisa jadi seduhkan kopi. Tahapan proses itu jadi semakin menambah nikmatnya secangkir kopimu. Itulah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Proses kopi

Proses kopi

Bicara kopi, tentu tak ketinggalan Kopi Temanggung. Kabupaten yang berada di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro ini untuk kopinya sudah memiliki tanda Indikasi Geografis atau IG. Kopi Temanggung mempunyai karakter beda sesuai dengan yang muncul ditanda IG tersebut. Rumah Kopi Mukidi yang beralamat di Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung melakukan beberapa proses kopi.

Proses kopi itu ada banyak macamnya, mulai yang natural, honey proses, wine proses, full wash. Tentunya kopi Temanggung dan petani kopinya juga melakukan proses tersebut. Proses yang sesuai SOP IG arabika maupun robusta tentunya petani sudah melakukannya, dan mengaju pada sop yang sudah dibuatnya.

Kopi temanggung baik arabika dan robustanya sudah memiliki tanda IG. Untuk kopi yang arabika pada wilayah dataran tinggi diatas 800 m dpl. Proses kopi akan berpengaruh pada cita rasa dan aromanya. Proses natural dan proses basah pasti akan beda hasilnya mulai dari visual beannya dan aromanya, serta rasanya, itulah kopi. Pada garis besarnya kopi harus petik merah dulu, baru kemudian proses perambangan. Usai perambangan dilanjut pada ada yang langsung dijemur, dikupas kulit luarnya, usai kupas direndam itulah yang membedakan nama-nama dalam proses kopi.

Untuk lebih detailnya akan dibahas lebih lanjut tiap proses kopi, dan itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Jalinan Silaturahmi, Konservasi dan Lingkungan

Jalinan Silaturahmi, Konservasi dan Lingkungan

poto by Wahyu Ids

Saya mencoba mengingat ketika ketemu dengan Wahyu Ids, peneliti capung. Saya ketemu tahun 2015 ketika waktu ada final lomba kopi yang diadakan oleh asosiasi eksportir kopi Indonesia. Waktu itu bertepatan dengan acara rutin “sepuluh ewu kopi”.

Namun karena sesuatu hal saya tidak bisa melihat jalannya acara sepuluh ewu kopi waktu itu. Mas Wahyu Ids mengenalkan saya dengan pak Iwan sanggar genjah arum. Ngobrol banyak terkait kopi waktu itu.

Perkenalan dengan mas Wahyu Ids, sampai saat ini masih berlanjut dengan kabar dan sapa kadang lewat media sosial bahkan berkunjung ke tempat saya. He he he malah saya sendiri belum pernah berkunjung ke kedai mas Wahyu Ids yang ada di Yogyakarta.

Selasa kemarin, 4 Desember 2018 mas Wahyu Ids, bersama teman-temannya berkunjung ke rumah kopi mukidi di Dusun Jambon Desa Gandurejo Bulu Temanggung Jawa Tengah. Ketika itu saya masih ngobrol banyak tentang penanaman kopi dengan famili saya, penyiapan lahan dan lainnya.

Teman mas Wahyu Ids seorang fotografer yang barusan saja pameran di luar negeri. Setelah ngobrol banyak tentang konsep kemandirian petani saya ceritakan fotografer mulai mengambil gambar-gambar lahan pertanian. Aktivitas petani pagi waktu itu juga menjadi hal yang menarik bagi Poriaman Sitanggang sang fotografer.

Saya dan mas Wahyu Ids ngobrol banyak tentang banyak potensi Temanggung mulai dari pertanian hingga sirklus panen dari tanaman satu ke tanaman lainnya. Kami sambil melihat juga Poriaman Sitanggang menerbangkan drone untuk mengambil lanskap di wilayah rumah saya. Usai pengambilan gambar, Poriaman Sitanggang ingin melihat lagi perubahan lahan ketika saat ini menanam dan dua bulan kedepan perubahannya.

Saya kemudian mengajaknya untuk melihat kebun kecil yang dekat dengan rumah. Saya jelaskan lebih detail tentang konsep kemandirian petani dengan bentuk olah lahan. Bahkan saya juga memberikan contoh beberapa pohon kopi yang sudah dipangkas dan belum dipangkas. Saya juga mencoba menjelaskan tentang olah lahan sesuai kaedah konservasi. Olah lahan sesuai kaedah konservasi merupakan langkah untuk mengurangi tingkat erosi.

Usai saya jelaskan terkait konsep kemandirian dan lainnya, kami menuju kelembah genting. Orang sini menyebutnya Genting, yaitu sebuah jalan dan ketika disitu berdiri saat cuaca cerah dua gunung kebanggaan Temanggung sangat luar biasa. Saya menunggu sesaat dan melihat Poriaman Sitanggang mengambil gambar untuk dokumennya.

Usai ambil gambar dilokasi wilayah Sumbing, kami meluncur ke wilayah Sindoro. Lokasi yang kami tuju adalah blok kopen yang merupakan kebun kopi di Desa Tlahap Kledung Temanggung. Lokasi kebun tepatnya milik Pak Tuhar, pernah buat shooting filosofi kopi. Saya lokasi itu tutup, tapi bagaimana agar kami bisa ketemu dengan pak Tuhar. Saya coba kontak pak Tuhar dan menjawab ya sebentar tak kesitu.

poto by Wahyu Ids

Saya dan teman-teman sambil menunggu pak Tuhar datang sambil melihat kebun kopi yang begitu rimbun dan penataan yang luar biasa. Saya yakin tidak hanya petani yang tertarik ketika melihat kebun kopinya Pak Tuhar, semua orang yang datang pasti tertarik apalagi aroma bunganya akan mengharumkan kedai kopi yang dikelolanya.

Usai Pak Tuhar datang, menyusul anaknya yang bernama wisnu dan trus disuruh menyajikan kopi. Obrolan tentang blok kopen sambil menikmati kopi hasil olahannya tak mengurang semangat ingin tahu tentang blok kopen, walaupun hujan semakin deras. Wilayah sini dulu memang kopi bagus dan wajar kalau sekarang ketika ditanam kembali jadi seperti ini. Tuhar menceritakan banyak tentang karakteristik kopi arabika miliknya yang mempunyai aroma yang beda dengan wilayah lain. Perbedaan tersebut karena banyak faktor, mulai dari tanah dan tanaman sekitar.

Karena waktu Poriaman Sitanggang yang harus ketemu temannya di Jogja, dan waktunya sudah ditentunya dan mohon pamit. Dan berjanji pasti tidak lama akan datang berkunjung lagi. Itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Harus Ada Asupan Untuk Kopi

Harus Ada Asupan Untuk Kopi

Makanan itu dibutuhkan untuk semua makhluk hidup, tak terkecuali pada tanaman, termasuk kopi. Kopi merupakan tanaman tahunan, dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Setelah pada tahapan panen dan pemangkasan selanjutnya kopi harus dipupuk.
Saya selaku anggota masyarakat perlindungan indikasi geografis kopi arabika sindoro sumbing, dapat banyak pengalaman pada tataran tentang kopi. Diskusi yang dikembangkan dan untuk menjalin komunikasi melalui grup watshapp, anggota grup mulai dari petani, dan pengelola kopi atau petani yang melakukan dari hulu dan hilir.
Musim hujan tiba dan saatnya kopi harus dipupuk. Banyak teori dalam pemupukan kopi mulai dari pembuatan lubang tanam, ada yang melingkari pohon dan ada yang dengan bikin rorak. Saya sebagai anggota grup dari MPIG KAJSS mencoba lontarkan cara pemupukan.
Sambutan dari para ahli budidaya ada pak Yamidi, seksi budidaya, ada Pak Tuhar selaku ketua, dan tak ketinggalan anggota lainnya Suwandi, dan Didik. Diskusi mulai dari lubang tanam yang harus melihat lokasi kebun. Karena ada yang lahan datar dan miring ini yang perlu diperhatikan. Saran dari pengurus dan anggota penulis lakukan.
Tahap selanjutnya saya lontarkan bagaimana dan pupuk apa yang seharusnya dipakai. Penulis kontak petani kopi dan ada yang bilang pupuk yang baik pupuk kandang jangan yang lembut. Hasil kontak dengan petani itu saya lontarkan di grup dan terjadilah diskusi yang menarik.
Pak Tuhar, menyampaikan pengalaman jaman orang tuanya dulu. Orang tuanya mempunyai 3 orang anak, yang diajarkan untuk membuat pupuk kandang agar jadi bagus. Salah satu dengan cara dengan diremet atau dilembutkan. Dan ada salah satu anak yang membantah dan orang tuanya marah, jengkok atau tempat duduk kecil dari balok. Dari situ pak Tuhar simpulkan bahwa pupuk yang bagus ternyata yang sudah matang dan lembut. Ternyata perlakuan pupuk matang dan lembut simbah-simbah kita sudah dari dulu melakukan.
Apa yang disampaikan pak Tuhar juga direspon oleh pak Yamidi bahwa ketika pupuk yang diberikan ke pohon kopi sudah lembut dan matang, akan mempermudah prosesnya kandungan pupuk diserap oleh akar kopi. Tak mau kalah Suwandi juga menyampaikan pengalaman jaman dulu bahwa orang tuanya tetap kalau bikin pupuk harus lembut.
Grup satunya yang gabungan dari tiga indikasi geografis mulai dari IG Kopi Java Arabika Sindoro Sumbing, IG Robusta, dan IG Srinthil Tembakau Temanggung. Adalah mas Agus yang alumni dari salah satu universitas pertanian di Jogja, memberikan masukan banyak tentang kebutuhan idealnya jika menghendaki hasil maksimal 16 unsur harus terpenuhi.
Banyak manfaat ternyata ketika media grup Wa digunakan untuk diskusi dan pengalaman petani jaman dulu bisa dipakai untuk rujukan. Dengan niatan yang baik untuk membagikan pengalaman dan informasi semoga bisa jadi amal jariyah. Itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Bersinergi Membangun Kekuatan

Bersinergi Membangun Kekuatan

Berkelompok itulah sebuah kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Salah satu langkah agar paham dan memahamkan pikiran kepada semua anggota tak lain yaitu pertemuan kelompok.

Kelompok tani “Mekar Tani Jaya” Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Pertemuan rutin kali ini membahas banyak hal, bahkan menghadirkan banyak narasumber. Narasumber tersebut mulai dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung maupaun dari Kecamatan Bulu.

Penyuluh lapangan Muhammad Ikaf H, memberikan arah terkait pupuk yang belum diambil dengan kartu tani segera diambil. Jadi menarik kerena pertemuan kali ini juga hadir dari BPJS Ketenagakerjaan dan sosialisasi tentang BPJS non upah.

Saya sedikit memberikan masukan tentang berorganisasi agar kuat. Dan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan Temanggung memberikan tentang tembakau murni Temanggung yaitu Kemloko,begitu arahan dari Pak Dadi. Menghimbau kepada semua petani kalau mau tanam bisa minta bijinya dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

Dan dari narasumber berikutnya masih dari dinas terkait memberikan masukan bagaimana agar kelompok ini maju, harus ada pertemuan rutin, terkait adminitrasi kelompok lengkap dan jangan lupa untuk menggali dana. Dana bisa dicari dengan banyak cara, mulai iuran atau dan lainnya.

Pertemuan kali ini berakhir sekitar jam 16.30 tapi karena pertemuan dianggap sehingga ada kelanjutan untuk dilanjut pada jam 20.00 wib. Lokasi pertemuan malamnya ditempat penulis di “Rumah Kopi Mukidi”.

Hadir pertemuan malam harinya, 16 orang dari 22 anggota. Petemuan pada malam harinya bagaimana kelompok bisa maju, salah satunya adalah membuat aturan. Penulis memberikan sedikit tentang aturan kelompok dari waktu pertemuan rutin dan tingkat kedatangan. Bagaimana ketika datang terlambat dan tugas kelompok yang harus mengeluarkan anggaran dan sumber anggarannya gimana.

Pertemuan lumayan sedikit 2 jam lamanya tapi menghasilkan keputusan yang luas biasa. Memupuk kebersamaan kelompok dan anggota, dan itulah “secangkir kopi ada cerita, banyak saudara dan penuh cinta.

Kenal Supaya Sayang

Kenal Supaya Sayang

Tak kenal maka tak sayang begitu kata pepatah. Hal itu berlaku untuk apapun tak lain untuk kopi. Kopi merupakan komuditas perkebunan yang menjanjikan. Bahkan dalam dunia bisnis siapa yang tidak tahu, perkembangan bisnis kopi terutama di kedai kopi perkembangannya begitu cepat.

Perkembangan kedai kopi begitu cepat artinya tingkat peminat pasar lokal sungguh menjanjikan. Tentukan pertumbuhan pasar yang cepat harus juga diimbangi dengan produksi tak lain pada sisi budidaya.

Sisi budidaya ini merupakan hal yang paling dasar. Petani merupakan ujung tombak dalam hal budidaya. Kepemilikan lahan yang sempit dan harus berfikir cerdas agar tingkat produksi meningkat ini perlu banyak hal yang dilakukan.

Budidaya ini meliputi dari persiapan bibit yang bagus/unggul, pemupukan, pemangkasan. Tahap selanjutkan adalah paska panen kopi, petik merah itu hal yang harus dilakukan. Sortasi awal memilih buah usai petik yang bagus atau full merah dan kurang merah. Perambangan awal merupakan langkah yang harus dilakukan agar buah bagus dan kurang bagus bisa dibedakan.

Paska panen juga bisa banyak proses mulai dari natural dan lainnya. Pada tahapan proses ini juga bisa mempengaruhi pada aroma dan cita rasa. Tahap selanjutnya pada sortasi biji kopi. Sortasi biji yang masih mentah yaitu untuk memisahkan kopi yang utuh, pecah, hitam dan lanang.

Pengenalan kopi selanjutnya adalah pada sangrai kopi. Pada sangrai kopi ini perlu mengenal biji kopi, mesin sangrai. Tentunya setiap mesin itu beda bahan bakunya,dan ini yang harus semua orang pahami, karena ketebalan plat dan lainnya.

Penyajian ini yang jadi menarik dan semua orang ingin bisa bikin kopi sendiri, bahkan sekarang sudah mulai banyak rumah yang punya alat manual agar bisa bikin kopi sendiri. Mengenal lebih dekat akan semakin nikmat kopi yang kau buat, dan ituah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta” itulah slogan dari kopi mukidi. Bagi yang minat untuk belajar kenal kopi lebih dekat bisa kok kelas privat maupun kelompok.

Jelajah Gumuk Papringan

Jelajah Gumuk Papringan

jepretan Rizal Muhaimin

Pasar papringan sebuah pasar per-2 mingguan yang dikelola oleh warga Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Pasar di area kebun bambu ini selalu berbenah dan mengembangkan pontensi yang ada disekitarnya.

Obrolan dengan pengelola dan banyak relawan dari berbagai universitas serta asal daerah berbeda semakin menambah nuansa keakraban. Relawan disitu membantu dari sisi design dan memetakan banyak problem mulai dari persoalan pertanian.

Penulis sudah 2 kali ngobrol dengan petani, tak menemukan generasi penerus petani. Minimnya anak muda atau remaja untuk mengeluti pertanian harus digugah, dengan cara lain. Mungkin dari olah hasil pertanian kemudian mereka akan tahu sumber mentahnya, ini hanya gagasan penulis saja.

Pertemua dengan beberapa petani yang ke-2 ini di kebun bambu yang bisa buat gelaran pasar papringan kali ini penulis mengajak anak pertamanya, tak lain ini sebagai proses belajar dan berinteraksi banyak orang, serta proses kaderisasi.

Dari obrolan dengan pengelola bahwa akan diterapkan jelajah kebun yang ada diwilayah sekitar pasar papringan. Mulai berbenah dari kebun kopi dari cara perawatan, pengaturan jarak tanam dan penaungnya atau perpaduan tanaman kopi dan pohon lainnya. Tak ketinggalan olah lahan sesuai kaedah konservasi harus diterapkan.

Kali ini penulis harus mempraktekkan mulai dari pangkas kopi dan juga olah lahan sesuai kaedah konservasi. Olah lahan sesuai kaedah konservasi pada lahan yang sudah ada tanamannya dan harus menyelamatan tanaman yang ada. Dalam pertemuan yang ke-2 terlihat mbak Dwi dan Pak Yuwono, suami istri alumni dari oisca ini memberikan masukan tanam dulu yang paling mudah tumbuh, dan jangan lupa kebunnya juga ada tempat komposting.

Setelah penulis memberikan masukan cara pangkas dan dilanjut petani yang punya kebun juga mempraktekkannya. Usai praktek istirahat serta evaluasi kegiatan yang dilakukan sambil menikmati cemilan. Pengelola pasar papringan mengajak agar materi yang diterima dipraktek dikebun masing-masing. Pertemuan berikutnya akan dikunjungi tiap kebunnya. Pertemuan sore itu sungguh luar biasa dan itulah “secangkir kopi ada cerita, banyak saudara dan penuh cinta”.

Mengembalikan Kejayaan Kopi Purbalingga

Mengembalikan Kejayaan Kopi Purbalingga

Handphone saya berdering dan ku angkat, haloo ini kopi Mukidi, benar begitu jawab saya. “Sukses selalu perkembangan kopinya Pak Mukidi,” begitu suara yang saya dengar lewat hp ku.
“Perkenalkan Pak Mukidi saya Imang Hikmanudin, apakah tanggal 26 malam ada waktu luang,” begitu suara Pak Imang lewat hp. “sebentar saya cek, o ya luang bagaimana,” jawab saya. “begini Pak kalau berkenan bisa jadi narasumber untuk forus diskusi grup di Purbalingga nanti suratnya menyusul ya,” begitu pak Imang mengakhiri pembicaraannya.
Sebelum hari yang ditentukan datang saya, mencoba kontak teman-teman petani yang ada di Temanggung untuk saya ajak. Mulai kontak Pak Yamidi, Mas Infanteri dan Pak Tuhar, dari ketiga petani yang saya ajak yang bisa hanya Pak Tuhar.
Saya jemput Pak Tuhar, di Desa Tlahap Kledung ketika berangkat. O ya Pak Tuhar ini juga ketua umum indikasi geografis kopi java arabika sindoro sumbing. Perjalanan menuju ke Purbalingga 26 Oktober 2018, jam 17.00 wib bertiga dengan pak sopir ada canda dan tawa.
Kami istirahat dulu untuk sholat maghrib di Banjarnegara. Usai sholat maghrib kami bertiga mencari warung makan. Sambil makan kami juga mendengarkan cerita banyak sosok Pak Tuhar usai panen tembakau. Usai makan kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang ditentukan. Dalam perjalanan saya juga menerima pesen dari pak Imang kemungkinan diskusi mundur pak dari jadwal 19.30 menjadi 20.00 wib, saya agak lega karena perjalanan bisa agak santai.
Sampailah kami di halaman Kantor Bappelitbangda Purbalingga. Terlihat suana yang sangat meriah, suara musik terdengar menambah semarak acara, tak ketinggalan komunitas kopi Purbalingga dengan ruang kopinya tak ketinggalan menyajikan kopi hasil karyanya. Gemerlap panggung malam itu merupakan hal yang luar biasa, dan semakin banyak peserta yang datang memadati halaman kantor Bappeda Purbalingga. Sebelum acara mulai kami mohon untuk ijin untuk sholat isya dan ditunjukkan ke mushola dilingkungan kantor Bappelitbangda Purbalingga.
Sebelum acara dimulai saya ditemani ngobrol dengan kepala Bappelitbangda Purbalingga, obrolan terkait acara FGD kopi dari hulu sampai hilir. Semakin banyak peserta yang datang dan otomatis sajian secangkir kopi sudah siap di meja peserta hasil racikan dari komunitas kopi Purbalingga.
Acara dimulai sekitar 20.15 wib dengan dipandu acara dari komunitas kopi Purbalingga. Sambutan dari Kepala Bappelitbangda Bapak Yani Sutrisno UN, bahwa acara ini adalah untuk mengali potensi dan persoalan yang ada ditingkat petani, warung kopi, prosesor kopi, roasteri kopi dan lainnya. Sambutan selanjutnya dari Kepala Dinas Perindag Purbalingga Bapak Sidik Purwanto, beliau menyampaikan bahwa di Purbalingga sudah mulai tumbuh dan bermunculan warung kopi dan kopi bubuk, serta mengajak agar tumbuh semangat untuk selalu minum kopi Purbalingga dan dimulai dari kalangan PNS.
Penulis mencoba mempaparkan konsep kemandirian petani, yang merupakan pola contoh tidak sekedar wacana saja. Konsep petani mandiri dengan olah lahan sesuai kaedah konservasi, ada aneka komuditas pertanian, mengolah aneka komuditas jadi produk dan pemasaran. Konsep itu yang melahirkan kopi hasil kopi jowo, kopi lamsi dan kopi mukidi. Serta bagaimana petani bisa kaya, tak lain caranya harus membangun kekuatan ekonomi bersama. Tak lupa penulis juga memperkenalkan tentang perkopian yang telah keluar IG nya, seperti Kabupaten Temanggung sudah ada IG kopi robusta, IG Srinthil Tembakau Temanggung, dan IG Kopi Java Arabika Sindoro Sumbing.
Narasumber berikutinya dari kedai kopi Kopikalitas, Ashari menyampaikan sejarah kopi Purbalingga yang pernah mencampai kejayaan hingga produksinya sampai 10.000 tons. Bagaimana agar bisa kembali dan sejarah itu bisa dikembalikan lagi. Tak lain kita harus selalu konsumsi kopi dari Purbalingga dan dia dalam kedainya hanya menjual kopi Purbalingga.
Proses diskusi dan saling memberi masukan sangat menarik mulai petani yang minta untuk jalan kelokasi desa agar diperbaiki. Peserta dari purbalingga yang memberikan masukan agar bikin kopi untuk selera rakyat dengan harga terjangkau. Tak kalah menarik dari perusahaan daerah mengajak untuk promosi dengan cara keliling keluar kota atau ke kabupaten lain memperkenalkan Kopi Purbalingga.
Dari Kabappelitbangda Purbalingga agar usai ini berkumpul semua untuk merumuskan dan langkah apa yang harus dilakukan, agar secepatnya bisa dibuat program berkelanjutan. Ashari menutup bagaimana kopi itu bisa mewujudkan rasa keadilan sosial bagi rakyat indonesia. Serta saya sebagai penutup bahwa kopi itu tidak saling mengalahkan sesuai dengan tagline di kopi mukidi “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”, dan semuanya jadi tertawa.

Ngobrol  Di Kebun Bambu

Ngobrol Di Kebun Bambu

jepretan @finlanes

Bertemu dan diskusi itu hal yang biasa, kali ini ngobrol dengan petani dan wanita tani yang punya kopi di Dusun Ngadiprono Ngadimulyo. Sore hari mereka berkumpul ditengah kebun bambu, lokasi kebun bambu ini yang sering buat gelaran pasar papringan.

Rabu, 17 Oktober 2018 merupakan hal yang menarik bagi penulis. Bertemu dan berdiskusi dengan para petani yang juga memiliki semangat untuk merawat kopi yang ada disekitar pasar papringan.

Petani yang hadir memiliki pohon kopi, tapi belum dirawat secara maksimal. Penulis mengajak bagaimana agar pohon kopi bisa produksi maksimal dan mempunyai nilai tambah yang lebih. Nilai tambah disini adalah mengolah kopi dari biji mentah menjadi bubuk dan siap seduh, dan ini merupakan tugas dari generasi muda petani.

Penulis mengajak untuk menghitung atau mengenal aset yang ada seperti kebun atau ladang dan isinya. Setelah mengenal aset itu harus dikelola dengan maksimal sehingga mempunyai nilai yang lebih. Penulis mengajak membangun mimpi mulai dari memetakan kepemilikan lahan dan isinya ketika dinominalkan. Dari harga mentah bahan sampai jadi matang sehingga terlihat nilai tambahnya.

Diskusi sore itu juga ditemani cemilan hasil karya warga setempat. Masih ada juga petani yang sekedar nanam dan dibiarkan saja tanpa dan perawatan bahkan pemupukan. Diskusi menarik mulai dari bagaimana melakukan pemupukan dan pemangkasan, namun kali ini belum pada tahap praktek. Pertemuan awal ini bagi penulis merupakan langkah awal untuk mengenal petani lebih dekat.

Pertemuan selanjutnya disepakati untuk praktek di kebun kopi masing-masing. Namun sudah ditunjuk salah satu kebun unuk dijadikan percontohan, mulai dari pemupukannya dan sampai pada pemangkasannya. Bahkan penulis meminta kalau bisa pertemuan selanjutnya ada generasi penerus petani. Dengan harapan ketika generasi penerus ikut hadir akan tumbuh minat untuk mengolah hasil pertanian jadi industri pertanian sehingga mempunyai hasil yang berlipat.

Cerita sore, membangun mimpi di kebun bambu dihadiri sekitar 12 petani dan wanita tani. Diskusi yang berlangsung hampir 2 jam itu membuahkan semangat merawat kopi agar produksinya lebih banyak dari biasanya. Dan itulah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta” mukidi.

Belajar Bersama Petani Pati

Belajar Bersama Petani Pati

Terimakasih penulis ucapkan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Pemanfaatan Hasil Hutan dan Kapasitas Kelembagaan wilayah 1, Provinsi Jawa Tengah. Karena undangan dari Dinas tersebut sehingga saya/penulis sampai ke Pati.
Ketemu dengan petani merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan, bisa menemukan sesuatu pengalaman baru, bahkan ketemu banyak petani bisa menemukan inspirasi baru.
Acara bertempat di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Petani yang terlibat dalam diskusi dari lembaga masyarakat desa hutan. LMDH merupakan lembaga yang anggotanya petani yang mengarap lahan negara yang dikelola perhutani.
Perjalanan 4 jam itu hilang lelahnya karena semangat dan selalu dinikmati ketika ketemu dan petani, apalagi anggota dan dinas terkait yang hadir ramah dan murah senyum. Penulis melihat ada alat jemur kopi yang difasilitasi dari Dinas Lingkungan Hidup terbuat dari besi dalam ukuran kecil.
Penulis memberikan materi terkait konsep tentang kemandirian, sampai pada pasar kopi. Dan penulis menyampaikan dalam kegiatan pasar serta memasarkan kopi perlu proses panjang tak lain kuncinya konsisten.
Bahkan penulis coba mengajak agar mengajak untuk bikin kader-kader atau generasi penerus petani. Bagaimana nanti akan muncul kader petani yang bisa mengolah industri pertanian dan itulah salah satu cara untuk meningkatkan hasil yang lebih, karena semakin sempitnya lahan pertanian.
Terjadi proses diskusi dengan peserta dan yang bertanya dapat doorpress dari penulis berupa produk kopi mukidi. Itulah bukti “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta,” Mukidi