Yamidi, Santun Dengan Kopi

Yamidi, Santun Dengan Kopi

Penuh semangat saya keluar dari rumah, untuk datang ke rumah sosok petani yang ahli dalam berkebun kopi. Dari wilayah Bulu saya menuju ke wilayah Kledung tepatnya di Desa Tlahap untuk bertemu dengan Yamidi, 46 tahun.
Petani yang juga dapat penghargaan lingkungan ini merupakan salah satu pengurus MPIG KAJSS dalam seksi budidaya. O ya MPIG KAJSS merupakan kepanjangan dari masyarakat perlindungan indikasi geografis kopi arabika java sindoro sumbing.
Dalam satu organisasi yang sama merupakan hal untuk saling mengisi tentang banyak hal dalam dunia perkopian. Penulis yang menerapkan konsep kemandirian petani masih banyak belajar dalam hal pemeliharaan kopi. Penulis sangat bahagia bisa ketemu dengan sosok yang santun dalam melakukan kopi.
Penulis membuktikan sendiri melihat kebun milik Pak Yamidi yang ada di Tlahap Kledung Temanggung. Dari ketertarikan dan niat untuk meningkatkan produksi maksimal harus dilakukan pemangkasan maka penulis berniat untuk secepatnya mempraktekkan di kebun miliknya.
Tepatnya kemarin selasa, 6 Maret 2018 penulis buat janjia untuk berkunjung ke kebun. Proses belajar memprakteknya dan mengenali beberapa cabang yang harus dibuang, mulai dari tunas air, cabang kipas dan lainnya.
Yamidi sosok yang santun dalam memperlakukan kopi ini begitu detail dalam mempraktekkan pangkas cabang. “kopi kuwi kudu tegel dan seni dalam pangkas kopi itu harus tega dan harus ada seninya, artinya harus berani membuang cabang yang tidak berguna, sehingga ada seni pohon yang bisa dilihat dan akhirnya buahnya akan bagus,” begitu jelasnya.
Yamidi berkeliling memberikan contoh kepada penulis tentang pangkas kopi yang masih kecil hingga kopi yang sudah produksi. Mengeliling kebun yang populasi tanaman sudah hampir 1000 batang bikin betah apalagi dengan sosok petani yang ahli dibudidaya dan santun memperlakukan kopi.
Waktu 3 jam serasa hanya 30 menit karena begitu nikmatnya suasana dikebun, apalagi kebunnya ada curug tadah hujan. Banyak memberi masukan sosok Yamidi agar kebun kopi penulis bisa kejar 10 bahkan 40kg dengan pemupukan yang sempurna.
Waktu sudah jelang siang dan penulis juga sudah ada janjian dengan orang lain sehingga harus pindah juga ke kebun yang lain. Penulis mengajak Pak Yamidi untuk melihat kebun petani yang tanpa dilakukan pemangkasan apapun.
Sayang petani yang lain tidak lagi di kebun, namung terlihat sekali mimik Yamidi begitu melihat kebun yang tanpa perlakuan pemangkasan. Geleng kepala merupaka pertanda menyayangkan pohon yang populasinya banyak kok tidak kurang perawatan.
Tanda dari mimik dan gelengan kepala itu merupakan bentuk reaksi sosok yang santun dalam merawat kopi. Begitulah bentuk bentuk refleksi orang yang sudah terbangun kepekaan dan kecintaan terhadap pohon kopi. Semoga semakin banyak petani-petani yang santun dalam memperlakuan kopi, sehingga berdampak pada hasil dan bisa meningkatkan kesejahteraannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *