Berguru di Lembah Posong

Berguru di Lembah Posong

Pagi itu tepatnya dalam hari pasaran Jawa tepatnya hari Jum’at Kliwon. Tepatnya tanggal 16 Maret 2018, pagi hari kurang lebih jam 05.30 penulis keluar rumah menuju tempat pak Tuhar selaku sosok petani dan Ketua MPIG Kopi Java Arabika Simdoro Sumbing.
Perjalanan dari rumah penulis sampai ke Rumah Pak Tuhar tidak begitu lama, sepeda motor paling 20 menit. Pagi itu penulis uluk salam dengan bahasa jawa kulon nuwun. “wah kok mruput banget koyo padat banget jadwal e” khas bahasa pak tuhar. Artinya kurang lebih begini kok pagi banget sepertinya jadwalnya padat, kata pak Tuhar.
Obrolan orang desa kalau pagi hari pasti ditemani cemilan dan ketan goreng. Ngobrol kabar dan perkembangan kopi pasti karena siapa yang tidak kenal dengan sosok pak Tuhar. Pak Tuhar baru saja, selesaikan tempat untuk proses kopi dan saya diajak untuk melihatnya.
Unit pengolah kopi yang didepannya dijadikan tempat pembibitan kopi arabika sungguh menarik. Jenis arabika yang dibibitkan komasti, biji dari Jember. Penulis diajak untuk naik ke lantai 2, yang digunakan untuk tempat jemur kopi yang sudah dinaungi dengan plastik sehingga nantinya pas jemur ketika hujan aman.
Pak Tuhar memang kreatif, terlihat sebelum untuk jemur kopi digunakan untuk jemur bawang putih karena pas panen. Obrolan dilanjutkan ke tempat produksi, belum lama duduk Pak Tuhar mengajak untuk melihat kebun yang pernah buah shooting film Filosofi Kopi.
Kebun seluas 1 ha, dan ada bangunan semi permanen dikeliling kebun kopi dengan konsep pola Thahap. Pola tersebut memadukan tanaman semusim dan kopi dengan jarak yang diatur.
Setelah keliling di kebun kopinya, kini penulis diajak naik ke Posong. Perjalanan ke atas Posong, di kanan kiri terlihat pemandangan yang menakjudkan tanaman kopi yang sudah berbuah dan tertata jaraknya.
Sampai taman posong dan masuk penulis diajak keliling dan diberi cerita hamparan luasnya wilayah Tlahap. Pak Tuhar cerita bahwa luas wilayah itu karena nenek moyong atau orang tua dulu semangat untuk babat alang alang. Konon dulu yang babat rumput luas maka wilayahnya semakin luas. Dan bikin tertawa bersama, Pak Tuhar dalam memberi semangat tidak hanya disitu.
Penulis diajak keliling jalan yang trasah yang ada di wilayah tegalan Tlahap. Turun kembali menuju lahan Pak Tuhar, sebelum sampai lahannya ada jalan lain dan penulis diajak memutarinya.
Ternyata lewat lahan Pak Zaenal yang sudah lama penulis tidak ketemu dan baru panen bawang putih. Obrolan dilahan tak lain ditemani tingwe yang merupakan khas dari petani yang ada di lereng Sumbing Sindoro.
Obrolan selesai lanjut perjalanan pulang dengan jalan yang belum ditrasah dan gantian joki sepedanya. Pak Tuhar jadi supir sepedanya karena jalannya licin, namun kerena keahlian dan biasa lewat lokasi yang biasa saja.
Tidak sengaja perjalan pulang, ternyata ketemu dengan Pak Pariyanto dan Pak Tri yang mau naik ke Taman Posong. Dan kita akhirnya naik lagi ke Posong, obrolan semakin menarik. Penulis yang sudah lama tidak ketemu dengan Pak Pariyanto kurang lebih 3 tahun, merupakan suatu kebahagian tersendiri.
Hampir 2 jam di taman Posong cerita tentang kopi, prospek, hingga kelembagaan MPIG KAJSS. Karena sudah agak siang diputuskan untuk turun, e e sampai di jalan raya ketemu dengan Pak Yamidi. Kami akhirnya mampir dan ngobrol tentang kelembagaan MPIG, ditemani secangkir kopi.
Tiba-tiba hp Pak Tuhar berdering, dan ternyata penulis dikontak untuk segera pulang karena sudah ditunggu tamu. Karena ketika keluar kadang penulis tidak bawa hp, dan akhirnya penulis berpamitan pulang dan sebelumnya harus antar pak Tuhar.
Guru dan inspirasi itu bisa datang dari siapa saja, termasuk dari teman dan kerabat dekat kita. Kalau penulis bilang itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *