Kunjungan Dan Berbagi

Kunjungan Dan Berbagi

Study banding merupakan hal yang sangat cepat untuk proses belajar. Karena proses belajar tidak hanya sekedar teori tapi bisa melihat langsung. Proses melihat itu bisa menimbulkan daya pikir yang luar biasa.
Minggu terakhir Bulan Maret 2018, Kopi Mukidi mendapat kehormatan karena bisa dikunjungi dari 2 Instansi berbeda dengan wilayah yang berbeda juga. Pada tanggal 27 Maret 2018, mendapat kehormatan kunjungan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bogor dengan beberapa petani dan penyuluh lapangan dari Kota Hujan tersebut.
Kunjungan ini melihat langsung proses produksi kopi, tentunya bagaimana awal mulai merintis sebuah usaha perkopian. Konsep kemandirian ini yang penulis sampaikan, idealisme atau mimpi untuk maju dari pelosok desa.
Konsep kemandirian mulai dari olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas hingga sampai pasar ini selalu disampaikan. Karena itu awal mulainya, pola contoh itulah yang penulis terapkan.
Bagaimana penulis mulai menanam kopi, ketika tanam tidak ada yang tanya, hingga 3 tahun kopi mulai berbuah baru ada yang bertanya. Semua itu penulis sampaikan, tidak bermaksud lain kecuali sebagai bentuk membangun semangat betapa sulitnya ketika mulai dan belum dilihat oleh orang lain.
Tantangan internal dan bagaimana ketabahan untuk melakukannya. Waktu yang sempit sehingga tidak sempat untuk praktek yang lainnya. Tak lupa penulis sampaikan terimakasih kepada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan dari Bogor dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung.
Temanggung untuk kopinya bisa dibilang tanaman yang lahannya luas di wilayah Jawa Tengah. Kopi Temanggung juga sudah dikenal sampai luar negeri. Kopi Temanggung juga sudah memiliki Indikasi Geografis baik itu yang arabika maupun yang robusta.
Hari berikutnya tepatnya tanggal 28 Maret 2018, Rumah Kopi Mukidi juga dapat kunjungan dari sedulur LMDH dari wilayah Tawangmangu. Lembaga masyarakat desa hutan itu difasilitasi dari Dinas lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan BKSDA Jawa Tengah dan KPH Surakarta.
Kunjungan yang dari sedulur LMDH ini mungkin agak beda bagaimana harus menjelaskan karena masyarakat desa hutan ini belum tanam kopi. Tak lupa penulis selalu sampaikan bahwa kopi itu merupakan langkah mewujudkan mimpi kemandirian bertanian, dan merupakan pola contoh.
Karena masyarakat atau petani di desa itu perlu sebuah contoh, bentuk nyata kegiatan hingga ada nilai tambah ekonomi pasti nanti bertahap akan akan yang mengikuti. LMDH yang berjumlah 30 peserta dengan didampingi dari dinas yang sudah disebut tadi, begitu antusias mendengarkan paparan dari penulis.
Tahapan dari proses kopi penulis jelaskan, dari tanaman hingga kemas bubuk kopi, bahkan angka untuk membangun mimpi penulis sampaikan dengan populasi yang diperbolehkan untuk tanam dilahan Perhutani. Penulis selalu berprinsip bahwa membangun mimpi itu dengan angka.
Usai Teori langsung praktek dengan mesin pengupas kulit kopi basah. Diproses basah ini penulis jelaskan nama alatnya, sampai melihat atau membedakan kopi yang bagus dan kurang bagus. Kopi yang mengapung untuk dipisahkan karena kurang bagus, sedangkan yang tenggelam itulah kopi yang bagus.
Setelah direndam dan dicuci lalu dijemur. Setelah jemur sampai kering baru masuk pada tahap selanjutnya adalah pengupasan kulit tanduk kopi dengan mesin huller, untuk mendapatkan biji kopi atau bean.
Tahapan selanjutnya adalah sortasi biji kopi secara manual atau mesin. Sortasi ini bertujuan untuk memisahkan biji utuh, pecah, hitam dan kopi lanang. Tahapan selanjutnya petani atau anggota lmdh yang berkunjung ke Rumah Kopi Mukidi melihat proses sangrai kopi.
Semua proses atau runtutan praktek mereka lakukan dengan semangat. Penulis perlihatkan awal mulai merintis usaha untuk sangrainya pakai gerabah atau kuali. Setelah runtutan acara diikuti ditutup oleh perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah.
Untuk penyemangat dan untuk praktek mereka anggota LMDH diberikan bibit kopi arabika untuk mulai menanam di Lahan Perhutani. Karena untuk membuktikan mimpi dari hasil dari kopi harus mulai dari menanam. Mengikuti sebuah proses itu bentuk dari konsistensi.
Itulah perjalanan dari bukti dari “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara,dan penuh cinta” dan tak lupa “salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *