Cerita, Bersenyum Bahkan Tertawa Dengan Petani Di Lampung

Cerita, Bersenyum Bahkan Tertawa Dengan Petani Di Lampung

Seminggu yang lalu penulis dapat kontak dari tim Afoco (Asean-Korea Forest Cooperation). Dia cerita kegiatannya, yaitu pendampingan petani di wilayah KPH Lampung. Pendampingan tersebut bekerjasama dengan Pusat Litbang Kehutanan.
Kegiatan agroforestry salah satunya ada tanaman kopi, “o ya saya dapat info dari teman katanya Pak Mukidi petani kopi ya,” begitu kata tim Afoco. Penulis jawab “ya, petani biasa yang terapkan konsep petani mandiri”.
“apakah Bapak berkenan kalau minggu depan ngisi kegiatan kami, membagikan pengalamannya di petani Lampung,” begitu suara via phone. “o ya saya cek dulu kalendernya,” jawab saya. “minggu depan saya kosong,” jawab penulis,setelah melihat jadwal kegiatan.
Akhirnya ditentukan jadwal penulis harus berangkat ke Lampung tanggal 9 – 12 April 2018. Perjalan Jogja – Lampung mundur 2 jam, Alhamdulillah walaupun malam sampai di hotel wilayah Lampung. Baru pagi hari bisa ketemu tim Afoco sa’at makan pagi dan ngobrol tentang pelatihan dan jarak dari Kabupaten Pringsewu ke Desa yang ditempuh kurang lebih 1 ½ jam. Waktu tempuh yang lama ini sehingga menjadikan pilihan karena hari berikutnya harus mengisi materi berikutnya.
Usai makan pagi, tepatnya 07.30 wib, berangkat ke lokasi pelatihan. Perjalan kelokasi sambil melihat pemandangan dan komuditas ada karet, coklat, padi. Dari apa yang terlihat ini membuktikan bahwa Lampung merupakan wilayah yang subur. Melihat nama-nama penunjuk wilayah penulis tidak asing dengan namanya, karena hampir namanya persis dengan nama daerah di Jawa, ada Sukoharjo, Banyumas dan lainnya.
Sopir yang jemput penulis saja bahasa Jawanya juga sangat mahir. Suasana keakraban semakin terjadi, bahkan sopir cerita nanti kita didesa bisa pakai 3 bahasa, bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda, kalau Bapak bisa bahasa Lampung jadi 4 bahasa.
Perjalan lebih dari yang direncanakan, dan sampailah di Desa Sumber Bandung Kecamatan Pagelaran Utara Kabupaten Pringsewu. Dilokasi pelatihan petani sudah berkumpul dan beberapa dari KPH Batutegi. Pelatihan dimulai yang membuka acara dan memberi sambutan dari KPH Batutegi, dalam sambutan agar nanti materi pelatihan tentang kopi harus bisa diimplementasikan dilokasi sini.
Sambutan berikutnya dari Pusat Litbang Hutan, bahwa kita menghadirkan ahli kopi semoga nanti ilmunya bisa diserap dan diimplementasikan serta produksi kopi bisa meningkat sehingga akan berdampak untuk kesejahteraan petani.
Hadir juga dari Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Hadirnya dinas terkait tingkat provinsi merupakan apresiasi yang luar biasa terhadap petani. Materi tentang konsep kemandirian petani merupakan pembuka, karena kopi output dari konsep petani mandiri.
Diskusi terjadi usai paparan konsep petani mandiri, bagaimana mulai dan lainnya. Terlihat begitu antusias peserta dengan banyaknya yang bertanya. Penulis coba jelaskan mulai itu berat dan lebih berat adalah menjaga agar selalu konsisten. Karena ketika awal tidak pernah orang melirik bahkan dicibir, bagaimana sebenarnya menganggap bahwa cibiran itu bentuk motivasi.
Paparan berikutnya tentang budidaya kopi, perawatan serta paska panen. Inipun tak kalah seru diskusinya, penulis coba jelaskan jangan sampai mengurangi atau mengalahkan tanaman wajib dari KPH, atau melanggar kerjasama yang telah disepakati. Oke besuk kita lihat kondisi di Lapangan.
Hari berikutnya jadwal kunjungan ke hutan, melihat kondisi pohon kopi dan mempraktekkan pangkas kopi. Terlihat pohon kopi belum maksimal perawatannya. Pohon sekitar kopi ada coklat, mrica dan pala. Luasannya juga tidak sedikit setiap satu orang mempunyai lahan garap rata-rata 1 ha, sungguh luas biasa.
Diskusi di hutan juga seru, karena ada perbedaan nama lokal tentang kopi. Bahkan nama kopi itu mereka kasih nama sesuai dengan yang bawa pertama kali. Penulis coba asumsikan setiap pohon bisa hasilkan berapa mulai dari kopi, pisang dan lainnya. Kalau ini dikelola dengan bagus dan baik pasti mempunyai nilai nominal yang luar biasa.
Sudah dipandang usai tentang proses dikebun dari pangkas dan konservasi diskusi dilanjut setelah makan siang dengan tema yang berbeda. Tema selanjutnya adalah sortasi biji kopi, sortasi ini untuk pisahkan biji yang utuh, pecah, hitam dan lanang. Usai sotasi dilanjut praktek sangrai manual, dengan apa yang ada di desa. Penulis coba jelaskan tanda-tanda kopi sudah matang pas sangrai. Dua kali praktek sangrai dengan hasil yang sama dari hasil kopi sortasi yang utuh dan yang hitam. Ini semua nanti untuk pembeda rasa dan aroma, mana yang menurut bapak-bapak hasilnya bagus.
Materi terakhir coba icip kopi hasil sangrai manual, menurut petani warnanya beda. Karena petani dan masyarakat biasanya kalau sangrai hitam sehingga paitnya sangat tajam. Icip dua kopi yang utuh dan hitam ternyata aroma berbeda dan rasanya, pilihan ternyata jatuh pada kopi yang utuh banyak diminati.
Diskusi sebelum penutupan sangat seru, bagaimana alur bisnisnya, bahkan kalau bikin kopi selera rakyat. Penulis selalu bilang ini idealis dan karakter kopi, bicara bisnis perkopian lihat selera konsumen. Petakan konsumen butuhnya apa, ya kita harus sediakan.
Kesan dan pesan yang mengharukan bahkan ada yang serius, canda tawa jadi sebuah keakraban. Inilah bukti secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta. Tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada tim Afoco, Puslitbang Hutan, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan KPH Batutegi, dan tak lupa kepada peserta semuanya akhirnya salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *