Perjalanan Kledung Hingga Tlogomulyo

Perjalanan Kledung Hingga Tlogomulyo

Bertemu dengan petani, diskusi kecil untuk membangun kemandirian dan ekonomi merupakan hal yang harus dilakukan. Pertemuan bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, termasuk ketika di ladang.

Via Wa penulis tanya salah satu teman petani yang ahli dibudidaya dan kebetulan juga waktunya luang sehingga bisa jadi teman untuk ngobrol bareng di lahan-lahan petani. Cerita mutu kopi tentunya tidak akan lepas dari Bibit, lalu pada tahap pemeliharaan mulai dari pemupukan hingga perawatan di pohon kopi.

Itulah obrolan kecil penulis dengan pak Yamidi sambil naik sepeda motor. Lewat lereng Gunung Sumbing masih terlihat pohon kopi yang belum maksimal dirawat. Harus kemauan untuk menularkan edukasi secara langsung turun ke lahan milik petani.

Pertemuan di lahan petani kami jumpai ketika sampai Dusun Kwadungan Desa Wonotirto Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Merupakan kebetulan pas kami lewat, petani baru rawat Tembakau dan tanaman kopi mengeliling kebunnya dibatas lahannya. Penulis dan Pak Yamidi berhenti dan menyapa petani dan tanya kenapa kopinya kok dibiarkan saja.

“tidak tahu cara merawatnya” jawaban polos dari petani. Kebetulan gunting pangkas kopi selalu kami bawa. Sosok yang santun dalam merawat kopi penulis minta untuk mempraktekkan bagaimana merawat kopi, tak lain beliau pak Yamidi. Beliau menjelaskan mulai tunas air yang harus dihilangkan sampai pada petik kopi yang merah jangan sampai dengan bantalan buah kopinya.

Setelah petani paham kami melanjutkan perjalannya, menuju salah satu kelompok tani di Dusun Tritis Desa Wonotirto. Pertemuan dengan Kelompok tani cerita banyak tentang temuan tentang bantuan bibit kopi pas kemarin ada kunjungan dari dinas terkait. Hingga pada permasalah kelompok dan lainnya, penulis mengajak ayoo diskusi dilanjut di lahan yang ada kopinya.

Ketua kelompok mengajak salah satu anggotanya yang dulu pernah belajar pangkas kopi di lahan Pak Yamidi ketika ada pembelajaran pangkas kopi. Kebanyakan permasalahan tentang kopi adalah pada perawatan terutama di pemangkasan. Penulis dan Pak Yamidi memberikan contoh pemangkasan sekitar 5 batang kopi, bahkan ditemukan kopi yang kena karat batang. Pak Yamidi memberikan masukan terkait pemeliharaan kopi, jangan urug batang utamanya dengan tanah. “karena ketika batang utama diurug tanah, akan banyak tumbuh akar gimbal, yang rakus hara”, begitu tambahnya.

Perjalan itu tak melelahkan karena perjalanan sambil berbagi dan belajar bersama petani. Belajar mengenali karakter lingkungan dan alam, tentukan akan semakin kenal karakter sosial masyarakat. Itulah bukti “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”, mukidi.

Berguru Sajian Kopi Tradisional

Berguru Sajian Kopi Tradisional

Kopi selalu dicari, dari anak muda hingga orang tua. Kopi jadi teman di meja ketika ngobrol, bahkan kopi merupakan bisnis yang tak akan henti. Dari angkringan hingga kedai yang mewah, bisa dikatakan kopi jadi selera rakyat.
Dalam dunia bisnis ada idealis konsep tapi jangan sampai lupa akan selera konsumen. Selera konsumen itu perlu bidikan yang tepat, meramu atau memadukan kopi dengan es, atau susu. Perpaduan tentunya akan jadi ciri masing masing kedai kopi dan justru disitulah akan muncul ciri khas antar satu kedai satu dan yang lainnya.
Penulis kali ini berguru dengan Guspur, siapa yang tidak tahu beliau. Sosok yang ahli memainkan sajian kopi secara tradisional, dengan rasa yang melekat di lidah konsumen. Guspur panggilan yang akrabnya disapanya, owner dari Kopi Tarik Ungaran.
Sudah lama penulis janjian sama Guspur, tapi baru sempat berkunjung ke padepokannya. Tepatnya hari Kamis, 26 April 2018 baru bisa silaturahmi ke Omah Kopi Guspur.
Guspur ternyata memiliki padepokan, di Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Penulis sebut padepokan karena kedepan tempat ini mau dijadikan semacam sanggar. Dari obrolan dengan Guspur nanti tempatnya bisa untuk semacam pameran produk tapi letaknya di desa, dan masyarakat bisa terlibat langsung.
Pedepokan yang bangunan utama dari kayu dengan bentuk Rumah Joglo ini, menambah suasana semakin nyaman, apalagi terdengar alunan musik gending-gending Jawa. Bangunan yang disekitarnya ada banyak pohon keras seperti sengon dan lainnya, terlihat juga pohon kelapa ketika angin berhembus semakin menambah sejuknya udara disekitarnya.
Obrolan tentang kopi dan lainnya menghanyutkan suasana hingga sore. Penulis mohon pamit dengan sang empunya, dan bagi yang penasaran dengan Guspur serta racikannya silakan kunjungi padepokan tersebut atau langsung datang ke kopi tarik Ungaran.
Penulis ucapkan terimakasih atas ilmunya dan jamuannya, itulah “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”.