fbpx
Semerbak Harumnya Kopi Temanggung

Semerbak Harumnya Kopi Temanggung

Begitu memasuki halaman gedung pemuda Kabupaten Temanggung, semerbak harum wanginya kopi tercium. Stand kopi berjejer dari berbagai penjuru Kecamatan di wilayah Kabupaten Temanggung. Dari Temanggung sebelah barat,timur, selatan maupun utara semua menampilkan produk kopinya, dengan aneka proses sampai pada produk olahannya.

Panggung utama tertulis “Temanggung Surganya Kopi” merupakan tema yang diangkatnya. Haman Nashirudin, 23 tahun selaku ketua panitia pelaksana mengatakan “bahwa festival kopi ini merupakan langkah kongkrit untuk membranding Kopi Temanggung ke kancah nasional”.

“festival ini juga merupakan sarana belajar bersama, karena ada beberapa kegiatan mulai dari icip kopi, saresehan kopi, serta literasi kopi,” jelasnya. “cupping contest hanya diikuti khusus untuk kopi dari wilayah Temanggung. Sedangkan lomba seduh kopi, bisa menggunakan kopi dari Temanggung maupun kopi dari luar Kabupaten Temanggung,” imbuhnya.

Terlihat beberapa stand memajang produk olah basah sesuai standar indikasi geografis untuk kopi arabika. Seperti terlihat di stand AF Coffee, kopi posong. Tak ketinggalan juga indikasi geografis kopi robusta juga menampilkan kopi dengan proses kering.

Gaya menarik pengunjung tiap stand beda-beda, ada yang memanjang produk selain kopi seperti mesin sangrai kopi. Tapi juga terlihat juga yang memakai pohon kopi yang ditanam pada pot plastik besar. KPP pratama Temanggung juga menampilkan stand untuk ngobrol pajak dengan tema “ngopi gratis ngobrol pajak” terlihat beberapa orang lagi diskusi tentang pajak.

Beberapa orang terlihat baru mempersiapkan kopi yang akan diicip oleh beberapa juri. Hembusan angin menebarkan aroma kopi yang belum diseduh, sudah dalam cangkir. Semerbak aroma kopi itu yang menghiasi “surganya kopi Temanggung”.

Pembibitan Kopi

Pembibitan Kopi

Tulisan tentang pembibitan kopi ini merupakan pengalaman penulis ketika dulu bikin pembibitan kopi. Hasil bikin bibit kopi juga ditanam dilahan milik penulis. Penulis dari dulu seneng bertemu, berdiskusi dengan petani bahkan sampai bermain dan mengunjungi kebun petani.

Bagi penulis berkunjung kekebun petani merupakan proses belajar secara langsung. Waktu itu penulis melihat kebun petani di wilayah Jumprit yang buahnya begitu bagus jenis arabika. Penulis bilang kalau pas panen bisa beli satu kilogram yang merah untuk bikin bibit.

Begitu panen biji kopi merah gelondong dikirim dari Dusun Liyangan Desa Purbosari Ngadirejo, petani tersebut merupakan pengurus LMDH. Satu kilo kopi gelondong tersebut penulis kupas manual, dengan cara ditumbuk dalam bahasa jawa ditutu. Tidak hanya itu penulis juga kontak petani lain dari pengurus LMDH Desa Kemuning Bejen tentang bagaimana untuk menghilangkan lendir yang masih melekat pada biji kopi yang masih ada kulit tanduknya.

Petani dan Kepala Desa Kemuning waktu itu namanya Pak Sadikun, untuk menghilangkan lendir atau yiyit dalam bahasa jawanya dengan cara dicampur dengan abu dapur. Penulis melakukan semua apa yang disampaikan petani. Penulis membuat tempat untuk bedeng tabur atau lokasi semai dibelakang rumah dengan ukuran bedeng lebar sekitar 80cm – 1 meter dengan panjang sesuai panjang rumah.

Tabur biji itu penulis lakukan dengan istri yang selalu setia mendampingi dan anak pertamanya. Bukan persoalan sepele untuk menunggu munculnya kecambah sampai jadi keper, atau biji kopi muncul dua daun. Untuk muncul keper saja butuh waktu 35 hari hingga 45 hari, tentunya ini perlu perlakuan penyiraman tiap hari.

Setelah tumbuh keper, maka pindahkanlah keper tersebut ke polibag yang sudah siap. Jangan lupa media yang dipolibag tentunya sudah dikasih campuran antara pupuk dan tanah. Perbandingan media yang sudah dimasukkan ke polibag bisa pakai perbandingan 1 : 1 artinya pupuk dan tanah. Atau 1: 2 dimana 1 pupuk dan 2 tanah, bisa juga dengan media lain sehingga 1;1;1 yaitu tanah,pasir dan pupuk. Media ini bisa menyesuaikan lokasi yang tersedia, penulis sendiri cuma menggunakan tanah dan pupuk kandang.

Setelah keper masuk ke media polibag jangan lupa lakukan penyiraman tiap hari. Pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam, bisa juga dengan melihat kondisi tanah, ketika tanah masih lembab dan tidak perlu disiram atau cukup maka bisa melakukan penyiraman untuk berikutnya.

Untuk bisa ditanam atau dipindahkan ke kebun atau ladang butuh waktu kurang lebih 8 bulan, dengan ketinggian sekitar 50cm atau batang sudah berkayu. Itulah cerita awal pembibitan dengan biji dari kebun petani ketika itu penulis melakukan pertama kali. Untuk proses tanam ke kebun bisa tunggu cerita selanjutnya, “salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi,” dan tak lupa “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Menikmati Kopi, Sambil Menatap Gunung

Menikmati Kopi, Sambil Menatap Gunung

Seduhan kopi dengan aneka macam alat seduh secara manual bisa dilihat di rumah kopi mukidi. Rumah kopi mukidi yang beralamat di Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung.

Temanggung kota kecil di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, gunung megah yang selalu jadi impian bagi beberapa mapala untuk sampai puncaknya. Temanggung juga dikenal dengan hasil perkebunannya, panili tumbuh bagus.

Temanggung dikenal dengan kota Negeri Tembakau, tembakau srinthil merupakan tembakau yang hanya tumbuh di Temanggung dengan bibit asli lokal. Dan sudah pantas sehingga muncul indikasi geografis tembakau srinthil.

Tanaman perkebunan lainnya yang mendukung nilai ekonomi masyarakat adalah kopi. Kopi arabika dan robusta tumbuh baik di Temanggung, kopi dengan aroma dan karakter yang beda dengan daerah lain, sehingga kopi Temanggung mudah dikenal. Arabika maupun robusta juga sudah keluar tanda Indikasi geografisnya.

Faktor tanah dan tanaman pendamping atau tanaman sekitar kopi merupakan salah satu penyebab munculkan karakter kopi yang beda dengan daerah lain. Siapa yang tidak kenal kopi sekarang? Semua orang baik muda, tua bahkan anak-anak sudah kenal dengan kopi.

Munculnya kopi sebagai gaya hidup, dan banyaknya tumbuh kedai kopi mulai dari yang kecil hingga berkelas, bagaikan semerbak harumnya bunga kopi ketika mekar. Kota besar dan kota kecil semerbak tumbuh kedai kopi tak ketinggalan di Temanggung.

Konsep yang beda, pelayanan yang beda itu merupakan strategi pemasaran masing-masing kedai kopi. Desa kecil dengan konsep kemandirian petani merupakan gaya tersendiri bagi mukidi, sebagai owner rumah kopi mukidi.

Mukidi dengan rumah kopi mukidinya mengembangkan konsep keterbukaan. Orang yang berkunjung bisa melihat proses kopi, ketika pas panen kopi juga bisa ikut panen. Tapi yang jelas ketika menikmati kopi di rumah kopi mukidi bisa melihat proses membuatnya, bahkan bisa berbagi cerita langsung dengan ownernya.

Bukan tidak melalui proses panjang Mukidi membangun Rumah Kopi Mukidi sehingga orang mau berkunjung ke rumahnya. Ketika awal tanam kopi saja tidak disapa, orang bertanya dan melihat hasilnya baru yakin apa yang dilakukannya.

Kini Mukidi menata Rumah Kopi Mukidi seperti kedai kopi, begitu masuk rumahnya, aroma kopi tercium. Lantai dasar ada ruang produksi, dan tempat ngopi, dan lantai dua digunakan mushola dan ketika ada tamu mau menginap untuk belajar kopi juga bisa.

Lantai dua sebagian ditatanya untuk tempat ngopi bahkan ketika bagi hari woooo pemandangannya luar biasa. Ketika cerah beberapa gunung terlihat menawan, anda penasaran silakan datang. Cerita dan canda mukidi sesuai dengan slogannya “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”

Kertosari Jumo Membangun Mimpi

Kertosari Jumo Membangun Mimpi

Kabar via wa dari salah satu Penyuluh lapangan Desa Kertosari Kecamatan Jumo untuk minta waktunya membagikan pengalaman penulis tentang kopi. Jadilah kesepakatan jadwal, dan nanti surat undangannya menyusul begitu, kabar via wa.

Undangan yang dikirim mahasiswa KKN Unnes, dua hari sebelum acara kegiatan dilakukan, “sambil bilang ma’af ini undangan mendadak”, begitu imbuhnya. Saya jawab “tidak apa sudah dijelaskan sama Bu Tari PPL dari Desa Kertosari Kecamatan Jumo,” jelas saya.

Tepat Hari Rabu 12 September 2018, masih dalam suasana forum pagi yang setiap hari saya lakukan sebelum mulai aktivitas di rumah kopi mukidi. Tim KKN Unnes yang jemput sudah datang, “tunggu sebentar ya,” bilang saya.

Semua cek dan meluncurlah Kami bersama tim KKN Unnes menuju lokasi Desa Kertosari Jumo. Sampai di Kantor Desa Kertosari nampak sudah tertata rapi kursi dan sebagian peserta pelatihan dan terlihat banyak didominasi ibu-ibu rumah tangga.

Kurang lebih jam 10.00 acara baru dimulai dengan dipandu tim KKN Unnes. Sambutan Kepala Desa dan menjelaskan tentang kegiatan ini dibiayai dari Dana Desa. “Dana yang masuk kedesa tidak semuanya digunakan untuk pembangunan fisik saja tapi harus digunakan juga untuk pemberdayaan, salah satunya inilah bentuknya,” jelasnya. “monggo nanti apa yang diinginkan dibuat usulan dan masukkan dalam musrenbang, sehingga bisa dianggarkan untuk tahun berikutnya. Untuk kegiatan ini saya nyatakan dibuka,” tambahnya.

Penulis membuka obrolan dengan sekitar 9 tahun yang lalu pernah ke Kertosari Jumo sebagai TPM dan melihat potensi kopi yang luar biasa. Bahkan pak sekretaris desa juga masih ingat saya, mbah pon juga masih ingat juga, saya juga pernah lihat kambing etawa punyanya.

Saya mulai menjelaskan bahwa kegiatan kopi ini, output dari konsep petani mandiri. Bagaimana olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas, bikin produk dan pemasaran. Ini konsep yang harus saya lakukan karena pola contoh.

Penulis mencoba menjelaskan beda kopi arabika dan robusta, terutama pada karakter dasar. Setelah itu penulis coba mengajak berhitung dari kopi yang sudah mentah sampai ketika sudah diproses. Hitungan ibu-ibu lewat calculator pada hp androidnya bikin terkejut, begitu lihat simulasi angkanya.

Penulis bilang itu baru dari harga pasaran, hitungan itu lah yang akan membuat ibu dan bapak mulai. Karena membangun mimpi itu dengan angka. Forum diskusi penulis buka banyak pertanyaan mulai dari proses kopi dan lainnya.

Usai diskusi dilanjut praktek sangrai kopi manual, karena di Kertosari belum mempunyai mesin sangrai. Penulis juga coba menjelaskan kekurangan sangrai manual. Yang perlu dipahami adalah sebenarnya kemampuan tapung alat sangrai manual dan tangan ketika mengaduk kopinya ketika di tempat sangrai.

Sambil praktek dan bergantian untuk aduknya jadi semakin asik karena terlihat proses kerjasama yang luar biasa. Usai sangrai penulis mengajak peserta untuk icip kopi, untuk mengenali aromanya juga.

Suasana semakin menarik pada mengenali kopi, mulai dari mencium aromanya. Icip kopinya sampai harus menilai memberikan penilaian. Pada akhir pertemuan ditutup oleh Pak Sekretaris Desa dan monggo kalau nanti ibu dan bapak bisa mengusulkan alat-alat kopi biar bisa dianggarkan lewat dana desa, tentunya nanti lewat musrenbang dan syukur bisa jadi skala prioritas sehingga bisa langsung dianggarkan.

Acara ditutup dengan pemberian kenangan-kenangan dari tim KKN Unnes kepada penulis. Itulah “secangkir kopi ada cerita, banyak saudar dan penuh cinta” ha ha ha ha ha

Dari Gerabah Jadi Kekuatan Ekonomi

Dari Gerabah Jadi Kekuatan Ekonomi

Tahun 2011 merupakan sebuah sejarah, karena merupakan awal proses produksi dengan apa adanya. Mengolah jadi bubuk berangkat dari sebuah mimpi besar, dimana waktu itu jual bean asalan ke pasar cuma laku 17.500 rupiah per kilo.

Mimpi itu yang membangkitkan harus proses bikin produk karena sempitnya lahan dengan harapan bisa menambah nilai ekonomi. Kami mulai bikin produk ini apa adanya, dari pengalaman nenek atau orang tua ketika bikin bubuk seadanya.

Sangrai manual harus kami lakukan dengan gerabah dan tungku yang ada didapur, dengan pemanas kayu bakar. Sedikit beda yang kami lakukan dengan nenek, waktu itu nenek kalau sangrai kopi ada penambahan kelapa maupun beras. Kami melakukan dengan tanpa kelapa dan beras, karena ingin membedakan apa yang dilakukan nenek dan produk kami. Disisi lain ada pembeda atau pengembangan produk.

Lahan sempit itu yang selalu terpikir dibenak kami agar mempunyai nilai tambah. Petik jual yang bisa dilakukan orang tua kami jelas tidak ada penambahan nilai. Bahkan kecil sekali untuk bisa meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.

Wirausaha mengolah hasil pertanian jadi sebuah produk merupakan jawaban, agar lahan sempit bisa meningkatkan hasil pertanian. Namun banyak kendala ketika orang akan memulai usaha bikin sebuah produk. Selalu berfikir harus dengan alat yang modern.

Tentunya tidak salah pola pikir harus dengan alat yang bagus. Tapi bagi saya dan istri mencoba untuk mulai dengan apa adanya, karena mulai itu bentuk contoh untuk membuktikan dari konsep kemandirian petani. Tidak berhenti hanya bikin sebuah produk, namun kami harus berfikir bagaimana harus bisa menjual.

Mulai dari facebook yang kami punya selalu digunakan untuk promosi waktu itu. Berkunjung ke rumah teman dengan membawa produk yang hanya dikemas plastik bening. Sinis teman dan ejekan juga muncul, namun bagi kami merupakan motivasi untuk bisa mewujudkan mimpi kemandirian petani.

Kami selalu berfikir kalau diejek dan dicaci berhenti sudah pasti mimpi itu tak akan tercapai atau terlalui. Semua cacian bahkan masukan dari teman yang kami kunjungan jadi catatan agar bisa membuktikan apa yang saya impikan. Bahkan ketika kami bertemu petani juga selalu ceritakan mimpi itu bikin produk itu sudah saya mulai, sampai memasarkannya.

Dapur yang ada dirumah jadi tempat kami untuk mengexpresikan bikin kopi bubuk ala tradisional. Kami juga mengundang teman-teman untuk datang ke rumah sekedar ngopi dengan cemilan seadanya. Tetangga kadang bilang aneh karena apa yang kami lakukan selalu beda dengan kebiasaan petani sekitar.

Tahapan bubuk kopi denga plastik bening, sampai pada stiker itupun kalau kena air luntur, ini selalu terkenang sampai sa’at ini. Gerabah yang awal buat sangrai kopi walau pecah masih kami simpan karena itulah sejarah ekonomi keluarga dan kemandirian petani.

Mulai dari apa yang ada, dari ketidak adaan itu akan menjadikan paham dan menghargai sesuatu. Dari ketidak adaan itu orang akan kuat, dan tak lain konsisten itu akan merubah, dari ketidak adaan menjadi ada. Itulah sebuah usaha, setelah itu hanya berserah kepada yang kuasa.

tags : #kopiTemanggung #kopiarabika #kopirobusta #Temanggung