fbpx
Mahasiswa  Polines Bakti Desa

Mahasiswa Polines Bakti Desa

Minggu lalu penulis dapat pesan via whatsapp dari Yayan Y. Santoso 23 tahun, mahasiswa Politeknik Negeri Semarang, Jurusan Teknik Elektro. Bisa tidak untuk berbagi pengalaman dengan petani di wilayah Kecamatan Jambu Semarang.
“Program hibah bina desa yang didanai dari kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi, merupakan program spektakuler,” begitu jelasnya. “kegiatan PHBD, ini digagas oleh organisasi internal kampus namanya UKM (unit kegiatan kemahasiswaan). UKM mempunyai 3 tujuan : pendidikan, pengabdian, dan penelitian.
Kegiatan tanggal 13 Juli 2019, bertempat di Dukuh Kalisari Desa Kuwarasan Kecamatan Jambu, dengan bentuk kegiatan workshop kopi mulai dari perawatan,petik, sangrai dan penyajian. Peserta pelatihan yang meliputi warga dusun mulai dari kelompok tani dan ibu ibu PKK sangat antusias.
Penulis memaparkan tentang kemandirian petani atau gagasan awal sehingga munculnya kopi mukidi. Praktek merawat kopi, petik dan sangrai manual penulis jelaskan semuanya.
Dalam sambutannya Kepala Desa menyampaikan bahwa harus muncul petani-petani mandiri seperti Mukidi. Pembuatan produk lokal baru digencarkan untuk wilayah Kecamatan Jambu dan bisa dilombakan mulai dari tingkat kecamatan.
Sugiyarto Kresnoaji, S.pd. S.H. salah satu warga masyarakat yang terlibat dalam pelatihan tersebut, kegiatan ini memberikan manfaat yang luar biasa bagi didirinya dan masyarakat pada umumnya, semakin menambah semangat untuk merawat kopi dan mempunyai mimpi untuk bisa memproduksi kopi.
Kegiatan yang melibatkan 28 mahasiswa, dari berbagai jurusan mesin,elektro dan akuntansi. Noor Lutfiana, 19 Tahun, Mahasiswa Akuntansi prodi perbankan syariah, “bahwa program ini, merupakan kegiatan nyata untuk pemberdayaan masyarakat desa dan fokusnya untuk meningkatkan nilai jual kopi,” jelasnya.
“inilah peran nyata dan masih banyak program-program Pemerintah yang mendukung tri dharma perguruan tinggi tepat guna dan sasarannya”, begitu tambah Yayan Y. Santoso.

Belajar Kopi Dengan Keluarga

Belajar Kopi Dengan Keluarga

Suasana libur merupakan hal yang menarik untuk dinikmati, apalagi berlibur sambil belajar. Libur bersama keluarga disaat musim libur sekolah merupakan hal sangat menyenangkan.

Dari kota menuju desa akan bisa melihat kehidupan masyarakat desa dan bisa juga melihat aktivitas harian masyarakat yang moyoritas hidup bertani. Nuansa udara segar dan dinginnya udara pegunungan merupakan sesuatu yang harus dinikmati.

Berlibur dan menambah wawasan tentang perkopian sekarang merupakan hal yang menarik bagi keluarga. Bahkan kopi bisa jadi proses interaksi dengan keluarga begitu kata Arif yang dari Semarang, ketika berlibur di Rumah Kopi Mukidi. Arif mengajak anaknya yang masih duduk dibangku SMA dengan harapan ketika pas hari libur bisa membuat kopi untuk satu keluarga dan akan terjadi proses diskusi dalam satu keluarga.

Lain lagi dengan Bambang yang mempersiapkan untuk persiapan kegiatan istrinya menjelang pesiun. “kebetulan istri senang dengan kopi dan saya sebentar lagi pesiun, syukur bisa untuk kegiatan kedepannya” jelas bambang yang dari Jakarta. Bambang belajar kopi dan berlibur dengan keluarga untuk mengenal kopi dari kebun sampai siap seduh.

Namun bagi Yaya dari Solo yang berlibur dengan keluarga untuk belajar kopi, karena putrinya senang dengan kopi. Tidak hanya itu ternyata juga mempunyai tempat untuk membuka kedai disebelahnya lokasi tokonya. Alasan tentu beda namun yang jelas libur bersama keluarga sambil belajar tentang kopi menjadi alternatif untuk meningkatkan proses interaksi dan diskusi dengan keluarga. Itulah cerita “secangkir kopi ada cerita, banyak saudara dan penuh cinta”.

Kopi Mukidi  di Rest Area Dan Pasar Buah Pringsurat

Kopi Mukidi di Rest Area Dan Pasar Buah Pringsurat

Kopi Temanggung siapa yang tidak tahu? Hampir semua orang mengenalnya. Jenis kopi mulai dari arabika dan robusta, mulai dari petani, hingga sampai kedai kopi semakin banyak bermunculan.

Tak ketinggalan Mukidi dengan Kopi Mukidinya juga ikut mengembangkannya, mulai dari Rumah Kopi Mukidi di Dusun Jambon Desa Gandurejo Bulu. Outlet Kopi Mukidi di Growo Danupayan, dan kini hadir kembali di rest area dan pasar buah Pringsurat, setelah 2 tahun yang lalu sempat berhenti.

Kopi Mukidi dengan output gagasan konsep kemandirian petaninya, ketika memberikan sambutan dalam acara tasyakuran kemarin 22 Juni 2019, cerita banyak tentang membangun pasar perlu sebuah proses. Sabtu, 22 Juni 2019 banyak undangan yang hadir mulai dari masyarakat sekitar Ngipik Ngalarangan Pringsurat dan komunitas lainnya.

Sambutan dari dinas terkait memberikan antusias positif dan semoga bisa ikut meramaikan rest area dan pasar buah Pringsurat. Dalam tausiyahnya pak Kyai Amin memberikan tentang manfaat silaturahmi sehingga bisa saling kenal dan tentunya akan berefek pada rejeki.

Kemasan acara tasyakuran kemarin mulai dari pengajian sampai menjelang dhuhur. Usai dhuhur sampai sore ada acara musik dan tentunya ada minum kopi gratis. Bagi yang lewat jalur Semarang – Jogja kalau mau mampir bisa kok, tinggal searching google map ketik outlet Kopi Mukidi Pringsurat pasti muncul lokasinya. Itulah “Secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Membangun Tim Kopi Mukidi

Membangun Tim Kopi Mukidi

Temanggung merupakan salah satu Kabupaten diwilayah Jawa Tengah. Gunung Sumbing dan Sindoro merupakan pemandangan yang luar biasa, potensi alam dan pertanian perkebunan juga menjadi unggulan. Tembakau, kopi, panili dan jenis kayuan merupakan produk – produk yang diunggulkan.

Kopi Temanggung dengan jenis kopinya arabika dan robusta. Kopi robusta tumbuh pada dataran rendah sedangkan arabika didataran tinggi. Kopi arabika di Temanggung rata-rata petani menanamnya masih pada pembatas lahan.

Bicara Kopi Temanggung tentu tak luput dengan sosok Mukidi dengan kopinya. Mukidi itulah nama pemberian orang tua dan tercantum diakta kelahiran, KTP dan Ijazah terakhirnya. Mukidi lahir 5 Agustus 1974, tempat lahirnya Dusun Kwadungan Desa Wonotirto, Bulu Temanggung.

Sejak SMP mimpi jadi petani berdasi, bagaimana sebenarnya petani bisa mengolah hasil pertanian, itulah mimpi petani berdasi waktu itu. Masih teringat ketika mimpi itu ditanya gurunya dan semua teman-teman satu kelas banyak yang mentertawakan sampai sekarang masih mengingatnya.

Mimpi itulah yang membuat Mukidi hingga kini bisa mewujudkan mimpi mengolah hasil pertanian dalam sekala rumahan. Konsep kemandirian petani yang digagas setahap demi setahap diwujudkan. Salah satu konsepnya itulah mengolah komuditas jadi sebuah produk.

Mukidi mulai dengan mengolah tanaman tahunan yaitu kopi. Kopi Lamsi, Kopi Jowo dan Kopi Mukidi, Mulai dengan sangrai manual dengan gerabah belajar dengan tetangga (baca simbah). Gerabah awal belajar itu kini masih tersimpan dengan baik walaupun sudah pecah.

Kini Mukidi melibatkan beberapa orang untuk membantunya. Di Dusun Jambon Desa Gandurejo, Bulu Temanggung itulah Rumah Kopi Mukidi. Rumah kecil itu sebagai tempat produksi dan sekaligus untuk cafenya. Disitulah Mukidi membangun kekuatan tim, tiap hari Mukidi melakukan diskusi kecil sebagai bentuk evaluasi dan membangun loyalitas.

Diskusi pagi dengan materi mulai bagaimana mengenal kopi, membuat produk hingga bagaimana menjamu tamu jadi materi bahasan tiap pagi. Mukidi Juga mengajak timnya untuk belajar mengeluarkan pendapatnya, ini salah satu cara agar berani bicara di hadapan orang banyak.

Itulah bentuk dari slogan yang selalu diucapkannya yaitu “secangkir kopi, ada cerita banyak saudara, dan penuh cinta”.

Kepungan Dan Buka Bersama

Kepungan Dan Buka Bersama

Jum’at, 17 Mei 2019, merupakan hari yang bersejarah bagi Kopi Mukidi. Kepungan kali ini berlokasi di Kopi Mukidi, rest area dan pasar buah Pringsurat. Kepungan merupakan bentuk syukuran dan permohonan do’a kepada Allah SWT, agar pembukaan kembali Kopi Mukidi diberi kelancaran.

Dua tahun yang lalu Kopi Mukidi pernah buka dilokasi yang sama, namun karena sesuatu hal harus berhenti. Kini dengan tekad dan semangat setelah dievaluasi kini ditata dengan yang lebih baik.

Penataan design yang lebih baik dan serta manajemen juga. Nasi kuning dalam bentuk tumpeng dan ingkung(ayam jago), tumpeng yang dikelilingi aneka sayur dan telur merupakan hiasan yang menambah ramainya dan cantiknya nuasan kepungan.

Hadir dalam tumpengan keluarga besar Kopi Mukidi, dan teman-temannya. Kepungan bertanda Kopi Mukidi rest area dan pasar buah Pringsurat dibuka kembali. Dengan tampilan baru kami mohon do’a restunya, dan itulah “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”

Kepungan memang dibuat jelang buka bersama, sehingga begitu masuk buka dilanjutkan menikmati tumpengan. Itulah sekelumit cerita mukidi dan Kopi Mukidi.

Kedai Kopi Mukidi Growo

Kedai Kopi Mukidi Growo

Kopi Temanggung siapa yang tidak mengenalnya, apalagi kopinya kini sudah terlindungi dengan Indikasi geografis atau dengan tanda IG baik itu arabika maupun robusta. Banyak brand kopi yang ada di Temanggung, salahnya adalah Kopi Mukidi, lahir karena konsep dari petani mandiri yang digagas oleh Mukidi.

Tepatnya Hari Jum’at, 3 Mei 2019, Kopi Mukidi Growo dibuka. Lokasi ruko berlantai dua di jalan Bulu Temanggung, di Growo Danupayan. Dalam pembukaan tersebut hadir dalam acara tersebut tokoh masyarakat setempat dan warga, tak ketinggalan teman pak Mukidi, dan sebagian komunitas kopi.

Dalam sambutannya Pak Mukidi sebagai pemilik brand langsung Kopi Mukidi mengatakan “dalam berkegiatan kopi yang perlu dikembangkan salah satunya adalah menjaga hubungan baik atau jaringan, karena dari jaringan itu akan bisa berkembang, dan itulah salah satu fungsi dari bentuk pelayanan.”

Acara tersebut juga ada pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Ibu Kepala Desa Danupayan dan diserahkan kepada Mukidi. Tak ketinggalan hiburan organ tunggal ikut memeriahkan pembukaan kedai Kopi Mukidi di Growo. Tak lain dengan dibukanya kedai baru akan semakin menambah geliat perkopian di Temanggung.

Konsep Kemandirian petani dengan jargonya menata lingkungan dan ekonomi merupakan bagaimana ada nilai tambah dengan mengelola lahan sempit. Tentunya obrolan kemandirian petani ini bisa didapatkan di kedainya sesuai dengan slogan kopinya “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta” tinggal atur jadwal agar bisa ngobrol langsung dengan Mukidi.

Kopi Mukidi Jadi Tujuan Praktek Kerja Lapangan

Kopi Mukidi Jadi Tujuan Praktek Kerja Lapangan

Kopi Mukidi yang beralamat di Dusun Jambon Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah sudah beberapa kali jadi tujuan praktek kerja lapangan. Praktek kerja lapangan merupakan tugas akhir bagi mahasiswa yang kadang bikin bimbang untuk mencari lokasi prakteknya. Pemilihan lokasi praktek banyak pada perusahaan besar, namun beda bagi Octhalia Nugrahaini Susanto.

Octha, begitu orang memanggilnya, Mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas pertanian, Diploma Tiga Agrobisnis. Dia lebih memilih pada industri sekala rumahan, alasannya sederhana dapat dibimbing langsung sama owner.

Konsep kemandirian petani yang diterapkan Mukidi sebagai owner Kopi Mukidi Menjadi daya tarik tersendiri bagi Octhalia. Ingin tahu lebih detail tentang perjalanan konsep kemandirian yang diterapkan anak petani sampai bisa produksi kopi merupakan hal menarik bagi Octha untuk analisa finansial agrobisnis kopi.

Octhalia Nugrahaini Susanto yang mempunyai mimpi untuk jadi pengusaha dan tentunya wirausaha pertanian menikmati sebuah proses kerja lapangan dengan penuh ceria. Octha mendengarkan paparan konsep petani mandiri langsung dari ownernya, dan terjun ke lahan dibimbing juga.

Aktivitas harian harus diikuti oleh Octha, mulai dari forum pagi yang selalu diterapkan sebelum mulai produksi di Kopi Mukidi. Forum bagi dilakukan tiap hari sekitar 30 sampai 45 menit, yang bertujuan untuk evaluasi kegiatan harian dan sekaligus untuk kegiatan motivasi.

Seseorang petani harus berani dan bermain dengan tanah, Octha juga belajar dan menikmati proses untuk membuat persemaian atau pembibitan. Tidak hanya itu saja melihat lahan yang dulu miring tanpa teras dan dirubah berteras harus dikunjunginya karena merupakan tahap awal dikonsep petani mandiri yaitu olah lahan sesuai kaedah konservasi.

Aneka komoditas dilahan, olah komoditas sampai pada pemasaran itulah runtutan konsep petani mandiri. Mengenali budidaya kopi dan perawatannya Octha mengikuti penjelasan dari Mukidi selaku owner Kopi Mukidi dengan seksama.

Mukidi yang merupakan petani dan sekaligus produksen kopi Temanggung dengan brand Kopi Mukidinya, dalam menjelaskan selalu membawa asisten pribadinya yaitu anak lelakinya yang pertama. Karena Mukidi selalu bicara dalam apapun perlu sebuah kaderisasi termasuk dalam usaha.

Menikmati sebuah proses itu yang selalu ditekankan Mukidi kepada siapapun termasuk kepada Octha. Jangan pernah menyerah dan konsisten, karena diawal mulai pasti orang tak akan pernah melihatnya, bahkan mereka akan membicarakan kita, begitu pesan Mukidi kepada Octha. Itulah cerita cinta kopi mukidi “salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi” itulah jargon konsep petani mandirinya. Tak ketinggalan juga untuk tagline di kopinya “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta” he he he he.

Peran Semua Pihak Untuk Kemandirian Petani

Peran Semua Pihak Untuk Kemandirian Petani

Bertemu dengan banyak petani dalam hal ini kepada anggota dan pengurus Lembaga masyarakat desa hutan di Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara dan Purbalingga. Tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada Cabang Dinas Kehutanan wilayah VII Jawa tengah.

Ucapan terimakasih itu sudah selayaknya karena dari kegiatan yang difasilitasinya, sehingga penulis bisa belajar bersama petani. Banyak pelajaran yang didapat dari proses perjalanan tersebut. Belum lama kegiatan berlangsung dan awalnya sederhana, penulis dapat pesan via whatsapp dari Pak Joko salah satu pejabat di Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII Jawa Tengah yang berkantor di Banjarnegara.

Obrolan lewat whatsapp itu berujung agar penulis berkenan membagikan pengalaman tentang kemandirian petani. Kesanggupan untuk membagikan tentang kemandirian petani yang dikemas dengan “Peningkatan Kemandirian LMDH melalui Pengelolaan Tanaman dibawah Tegakan”.

Mulai dengan berkegiatan di LMDH wilayah Kabupaten Wonosobo, tepatnya tanggal 13 Pebruari 2019. Kegiatan yang berlangsung selama, penulis paparkan tentang kemandirian petani dan bagaimana melihat potensi ada di LMDH, terutama kopi.

Paparan tentang kopi mendapat respon positif dari peserta diskusi, mulai dari proses kopi sampai pada pemasarannya. Banyaknya pertanyaan sebagai indikator bahwa metari dapat diterima. Diskusi berakhir dan sesi poto bersama menjadi dokumen yang diabadikan disetiap peserta.

Banjarnegara menjadi tujuan penulis dan harus menjalankan tugas untuk berbagi tepatnya tanggal 19 pebruari 2019. Menikmati perjalanan dengan angkot sungguh hal yang menarik bisa diskusi dengan pak sopir dan lainnya.

Usai dhuhur penulis harus paparkan kemandirian petani dengan kopi. Cerita tentang kopi baik Kopi Temanggung dan lainnya. Tentang budidaya sampai pada pemasaran atau bisa disebut rantai pasar kopi. Tak kalah seru interaksi penulis dengan peserta, bahkan pertanyaan yang sederhana yaitu bagaimana membuat kopi jadi harganya lebih, dan peluang untuk bisa membangun dengan kerjasama dengan berbagai pihak. Sesi poto bersama jadi saksi kegiatan yang difasilitasi Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII di Kabupaten Banjarnegara.

Hari berikutnya tepatnya tanggal 20 Pebruari 2019, kegiatan yang dengan LMDH wilayah Kabupaten Purbalingga. Acara sehari berbagi dengan kemandirian petani dan LMDH sekaligus menggali potensi tentang kopi. Diskusi menarik karena sudah ada yang tanam kopi, namun perawatan belum maksimal.

Dari kegiatan tersebut penulis selalu sampaikan perlu kaderisasi petani. Petani muda dan mau bekerja keras untuk mengolah proses produksi hasil pertanian. Hal yang menarik bagi penulis ketika mau paparan ternyata sudah dapat pertanyaan terkait kopi, dan ini bukti antusias petani dalam hal budidaya kopi. Sesi poto tak ketinggalan untuk menutup acara di Purbalingga, dan penulis sampaikan “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Kopi Temanggung

Kopi Temanggung

poto by mukidi

Kabupaten yang terletak di wilayah Jawa tengah ini potensinya pertanian dan perkebunannya luar biasa. Kabupaten Temanggung yang mempunyai aneka produk unggulan mulai dari kopi, tembakau, vanili dan kayuan.

Kopi Temanggung dengan hamparan yang luas, untuk jenis kopi robusta pada dataran yang rendah. Kopi robusta sentranya mulai dari Kecamatan Pringsurat, Kranggan, Kaloran, Kandangan, Jumo, Gemawang, Candiroto, Bejen dan sebagian Kecamatan Wonoboyo.

Untuk Kopi Temanggung yang jenis arabika, tumbuh pada dataran tinggi dan kebanyakan tanamnya masih untuk pembatasan lahan antar kebun, konservasi, serta berpaduan dengan tanaman semusim. Jenis arabika ini tumbuh di wilayah Kecamatan Selopampang, Tembarak,Tlogomulyo,Bulu, Parakan, Kledung, Bansari,Ngadirejo, Wonoboyo, dan Tretep.

poto by mukidi

Kopi Temanggung sudah memiliki sertifikat Indikasi Geografis, baik yang robusta maupun yang arabika. Tanda Indikasi geografis yang arabika dengan sebutan kopi arabika java sindoro dan sumbing. Tanda IG untuk robusta, kopi robusta Temanggung.

Artinya kopi Temanggung mempunyai karakteristik yang beda dengan wilayah lainnya. Dalam beberapa lomba kopi nasional untuk kopi Temanggung selalu mendapat rangking. Dalam berbagai kontes internasional juga selalu mendapat nama.

poto by mukidi

Minatntuk tanam kopi bagi petani semakin banyak, ini terlihat banyak program pembagian bibit kopi dari pemerintah maupun pihak swasta. Pertumbuhan kedai kopi di Kabupaten Temanggung semakin banyak, mulai dari yang manual hingga sampai pada yang pakai mesin.

Banyaknya kedai kopi bisa jadi indikator bawa minat untuk konsumsi kopi di Temanggung meningkat. Ada juga kelompok-kelompok tani yang sudah mulai untuk proses kopinya dari gelondong sampai jadi bean/biji kopi.

Kopi Temanggung banyak dipasarkan dalam bentuk biji kopi, biji sangrai, maupun bubuk. Untuk belanja sekarang sangat muda bisa didapat lewat online. Begitulah sekelumit tentang kopi Temanggung dan “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Mencari Ilmu Perkopian di Lembah Posong

Mencari Ilmu Perkopian di Lembah Posong

poto by Rizal

Berawal dari diskusi selapanan kelompok tani mekar tani jaya, Dusun Jambon Desa Gandurejo, Bulu Temanggung Jawa Tengah. Salah satu kesepakatan nya adalah untuk belajar dan melihat ke lokasi kebun kopi di wilayah Tlahap. Penulis mendapat tugas untuk kontak salah satu ketua IG Arabika yaitu Pak Tuhar untuk minta waktu agar berkenan atau memperbolehkan lokasi kebunnya untuk belajar.

Kesepakatan terjadi untuk kunjungan ke lokasi kebun pak Tuhar yaitu hari Kamis, 24 Januari 2019. Hari yang ditentukannya sampai dan mekar tani jaya berkumpul sesuai dengan yang disepakati.

Dua kelompok dari Gandurejo Bulu terdiri dari wanita tani puspa dan mekar tani jaya menimba ilmu ke lokasi kebun kopi posong milik pak Tuhar. Selama 3 jam terdiri dari paparan tentang kopi dan praktek lapangan. Kunjungan lapangan ini didampingi dari penyuluh lapangan dari Kecamatan Bulu Muhammad Ikraf.

poto by Rizal

Tak ketinggalan juga penyuluh lapangan dari Kecamatan Kledung juga menyambutnya. Dalam sambutannya Ikraf begitu panggilan akrab dari Muhammad ikraf, menyampaikan bahwa ini proses belajar, dan harus optimis bisa mewujudkan kebun seperti milik pak Tuhar.

Tuhar sendiri selaku pemilik kebun memberikan gambaran tentang kopi dan analisa ekonominya dari sisi budidaya kopi. Dalam lahan yang dikelolanya terlihat kopi berpaduan dengan cabai, dan terlihat juga bekas sogol atau pohon tembakau. Tuhar menunjukkan dan memberi tanda salah satu pohon yang pernah panen 40 kg kopi basah.

Usai paparan dari Tuhar juga masih ada paparan tentang pola Tlahap dari Yamidi. Dalam paparan dijelaskan bahwa dulu awal sejarah kopi masuk ke Tlahap untuk adalah untuk konservasi lahan, sekitar tahun 1998. Beberapa tawaran awal mulai dari aneka pohon dari pemerintah yang akhirnya masyarakat memilih kopi.

Yamidi juga menjelaskan teknis menanam dan memangkas kopi. Mulai dari pangkas bentuk, pangkas produksi hingga pangkas peremajaan. Terjalin diskusi usai paparan dari pak Tuhar dan pak Yamidi.

Acara selanjutnya pembagian kelompok untuk praktek pangkas kopi. Kelompok dibagi 3, dan praktek pangkas masing-masing dipandu Pak Tuhar, Pak Yamidi, dan Pak Kuwato ppl dari wilayah setempat.

Nampak antusias kelompok mekar tani jaya dan kwt puspa dalam melakukan praktek pemangkasan. Itu terbukti mereka sangat aktif terlibat proses interaksi dengan pemandu dalam praktek. Semangat-semangat dalam menimba ilmu hingga ke lembah posong dengan harapan bisa menerapkan di Gandurejo. Harapan dan mimpi-mimpi untuk bisa mewujudkan atau menambah kesejahteraan rumah tangga petani dan menyelamatkan lahan dari erosi harus segera diimplementasikan. Itulah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.