Semerbak Harumnya Kopi Temanggung

Semerbak Harumnya Kopi Temanggung

Begitu memasuki halaman gedung pemuda Kabupaten Temanggung, semerbak harum wanginya kopi tercium. Stand kopi berjejer dari berbagai penjuru Kecamatan di wilayah Kabupaten Temanggung. Dari Temanggung sebelah barat,timur, selatan maupun utara semua menampilkan produk kopinya, dengan aneka proses sampai pada produk olahannya.

Panggung utama tertulis “Temanggung Surganya Kopi” merupakan tema yang diangkatnya. Haman Nashirudin, 23 tahun selaku ketua panitia pelaksana mengatakan “bahwa festival kopi ini merupakan langkah kongkrit untuk membranding Kopi Temanggung ke kancah nasional”.

“festival ini juga merupakan sarana belajar bersama, karena ada beberapa kegiatan mulai dari icip kopi, saresehan kopi, serta literasi kopi,” jelasnya. “cupping contest hanya diikuti khusus untuk kopi dari wilayah Temanggung. Sedangkan lomba seduh kopi, bisa menggunakan kopi dari Temanggung maupun kopi dari luar Kabupaten Temanggung,” imbuhnya.

Terlihat beberapa stand memajang produk olah basah sesuai standar indikasi geografis untuk kopi arabika. Seperti terlihat di stand AF Coffee, kopi posong. Tak ketinggalan juga indikasi geografis kopi robusta juga menampilkan kopi dengan proses kering.

Gaya menarik pengunjung tiap stand beda-beda, ada yang memanjang produk selain kopi seperti mesin sangrai kopi. Tapi juga terlihat juga yang memakai pohon kopi yang ditanam pada pot plastik besar. KPP pratama Temanggung juga menampilkan stand untuk ngobrol pajak dengan tema “ngopi gratis ngobrol pajak” terlihat beberapa orang lagi diskusi tentang pajak.

Beberapa orang terlihat baru mempersiapkan kopi yang akan diicip oleh beberapa juri. Hembusan angin menebarkan aroma kopi yang belum diseduh, sudah dalam cangkir. Semerbak aroma kopi itu yang menghiasi “surganya kopi Temanggung”.

Pembibitan Kopi

Pembibitan Kopi

Tulisan tentang pembibitan kopi ini merupakan pengalaman penulis ketika dulu bikin pembibitan kopi. Hasil bikin bibit kopi juga ditanam dilahan milik penulis. Penulis dari dulu seneng bertemu, berdiskusi dengan petani bahkan sampai bermain dan mengunjungi kebun petani.

Bagi penulis berkunjung kekebun petani merupakan proses belajar secara langsung. Waktu itu penulis melihat kebun petani di wilayah Jumprit yang buahnya begitu bagus jenis arabika. Penulis bilang kalau pas panen bisa beli satu kilogram yang merah untuk bikin bibit.

Begitu panen biji kopi merah gelondong dikirim dari Dusun Liyangan Desa Purbosari Ngadirejo, petani tersebut merupakan pengurus LMDH. Satu kilo kopi gelondong tersebut penulis kupas manual, dengan cara ditumbuk dalam bahasa jawa ditutu. Tidak hanya itu penulis juga kontak petani lain dari pengurus LMDH Desa Kemuning Bejen tentang bagaimana untuk menghilangkan lendir yang masih melekat pada biji kopi yang masih ada kulit tanduknya.

Petani dan Kepala Desa Kemuning waktu itu namanya Pak Sadikun, untuk menghilangkan lendir atau yiyit dalam bahasa jawanya dengan cara dicampur dengan abu dapur. Penulis melakukan semua apa yang disampaikan petani. Penulis membuat tempat untuk bedeng tabur atau lokasi semai dibelakang rumah dengan ukuran bedeng lebar sekitar 80cm – 1 meter dengan panjang sesuai panjang rumah.

Tabur biji itu penulis lakukan dengan istri yang selalu setia mendampingi dan anak pertamanya. Bukan persoalan sepele untuk menunggu munculnya kecambah sampai jadi keper, atau biji kopi muncul dua daun. Untuk muncul keper saja butuh waktu 35 hari hingga 45 hari, tentunya ini perlu perlakuan penyiraman tiap hari.

Setelah tumbuh keper, maka pindahkanlah keper tersebut ke polibag yang sudah siap. Jangan lupa media yang dipolibag tentunya sudah dikasih campuran antara pupuk dan tanah. Perbandingan media yang sudah dimasukkan ke polibag bisa pakai perbandingan 1 : 1 artinya pupuk dan tanah. Atau 1: 2 dimana 1 pupuk dan 2 tanah, bisa juga dengan media lain sehingga 1;1;1 yaitu tanah,pasir dan pupuk. Media ini bisa menyesuaikan lokasi yang tersedia, penulis sendiri cuma menggunakan tanah dan pupuk kandang.

Setelah keper masuk ke media polibag jangan lupa lakukan penyiraman tiap hari. Pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam, bisa juga dengan melihat kondisi tanah, ketika tanah masih lembab dan tidak perlu disiram atau cukup maka bisa melakukan penyiraman untuk berikutnya.

Untuk bisa ditanam atau dipindahkan ke kebun atau ladang butuh waktu kurang lebih 8 bulan, dengan ketinggian sekitar 50cm atau batang sudah berkayu. Itulah cerita awal pembibitan dengan biji dari kebun petani ketika itu penulis melakukan pertama kali. Untuk proses tanam ke kebun bisa tunggu cerita selanjutnya, “salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi,” dan tak lupa “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Menikmati Kopi, Sambil Menatap Gunung

Menikmati Kopi, Sambil Menatap Gunung

Seduhan kopi dengan aneka macam alat seduh secara manual bisa dilihat di rumah kopi mukidi. Rumah kopi mukidi yang beralamat di Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung.

Temanggung kota kecil di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, gunung megah yang selalu jadi impian bagi beberapa mapala untuk sampai puncaknya. Temanggung juga dikenal dengan hasil perkebunannya, panili tumbuh bagus.

Temanggung dikenal dengan kota Negeri Tembakau, tembakau srinthil merupakan tembakau yang hanya tumbuh di Temanggung dengan bibit asli lokal. Dan sudah pantas sehingga muncul indikasi geografis tembakau srinthil.

Tanaman perkebunan lainnya yang mendukung nilai ekonomi masyarakat adalah kopi. Kopi arabika dan robusta tumbuh baik di Temanggung, kopi dengan aroma dan karakter yang beda dengan daerah lain, sehingga kopi Temanggung mudah dikenal. Arabika maupun robusta juga sudah keluar tanda Indikasi geografisnya.

Faktor tanah dan tanaman pendamping atau tanaman sekitar kopi merupakan salah satu penyebab munculkan karakter kopi yang beda dengan daerah lain. Siapa yang tidak kenal kopi sekarang? Semua orang baik muda, tua bahkan anak-anak sudah kenal dengan kopi.

Munculnya kopi sebagai gaya hidup, dan banyaknya tumbuh kedai kopi mulai dari yang kecil hingga berkelas, bagaikan semerbak harumnya bunga kopi ketika mekar. Kota besar dan kota kecil semerbak tumbuh kedai kopi tak ketinggalan di Temanggung.

Konsep yang beda, pelayanan yang beda itu merupakan strategi pemasaran masing-masing kedai kopi. Desa kecil dengan konsep kemandirian petani merupakan gaya tersendiri bagi mukidi, sebagai owner rumah kopi mukidi.

Mukidi dengan rumah kopi mukidinya mengembangkan konsep keterbukaan. Orang yang berkunjung bisa melihat proses kopi, ketika pas panen kopi juga bisa ikut panen. Tapi yang jelas ketika menikmati kopi di rumah kopi mukidi bisa melihat proses membuatnya, bahkan bisa berbagi cerita langsung dengan ownernya.

Bukan tidak melalui proses panjang Mukidi membangun Rumah Kopi Mukidi sehingga orang mau berkunjung ke rumahnya. Ketika awal tanam kopi saja tidak disapa, orang bertanya dan melihat hasilnya baru yakin apa yang dilakukannya.

Kini Mukidi menata Rumah Kopi Mukidi seperti kedai kopi, begitu masuk rumahnya, aroma kopi tercium. Lantai dasar ada ruang produksi, dan tempat ngopi, dan lantai dua digunakan mushola dan ketika ada tamu mau menginap untuk belajar kopi juga bisa.

Lantai dua sebagian ditatanya untuk tempat ngopi bahkan ketika bagi hari woooo pemandangannya luar biasa. Ketika cerah beberapa gunung terlihat menawan, anda penasaran silakan datang. Cerita dan canda mukidi sesuai dengan slogannya “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”

Kertosari Jumo Membangun Mimpi

Kertosari Jumo Membangun Mimpi

Kabar via wa dari salah satu Penyuluh lapangan Desa Kertosari Kecamatan Jumo untuk minta waktunya membagikan pengalaman penulis tentang kopi. Jadilah kesepakatan jadwal, dan nanti surat undangannya menyusul begitu, kabar via wa.

Undangan yang dikirim mahasiswa KKN Unnes, dua hari sebelum acara kegiatan dilakukan, “sambil bilang ma’af ini undangan mendadak”, begitu imbuhnya. Saya jawab “tidak apa sudah dijelaskan sama Bu Tari PPL dari Desa Kertosari Kecamatan Jumo,” jelas saya.

Tepat Hari Rabu 12 September 2018, masih dalam suasana forum pagi yang setiap hari saya lakukan sebelum mulai aktivitas di rumah kopi mukidi. Tim KKN Unnes yang jemput sudah datang, “tunggu sebentar ya,” bilang saya.

Semua cek dan meluncurlah Kami bersama tim KKN Unnes menuju lokasi Desa Kertosari Jumo. Sampai di Kantor Desa Kertosari nampak sudah tertata rapi kursi dan sebagian peserta pelatihan dan terlihat banyak didominasi ibu-ibu rumah tangga.

Kurang lebih jam 10.00 acara baru dimulai dengan dipandu tim KKN Unnes. Sambutan Kepala Desa dan menjelaskan tentang kegiatan ini dibiayai dari Dana Desa. “Dana yang masuk kedesa tidak semuanya digunakan untuk pembangunan fisik saja tapi harus digunakan juga untuk pemberdayaan, salah satunya inilah bentuknya,” jelasnya. “monggo nanti apa yang diinginkan dibuat usulan dan masukkan dalam musrenbang, sehingga bisa dianggarkan untuk tahun berikutnya. Untuk kegiatan ini saya nyatakan dibuka,” tambahnya.

Penulis membuka obrolan dengan sekitar 9 tahun yang lalu pernah ke Kertosari Jumo sebagai TPM dan melihat potensi kopi yang luar biasa. Bahkan pak sekretaris desa juga masih ingat saya, mbah pon juga masih ingat juga, saya juga pernah lihat kambing etawa punyanya.

Saya mulai menjelaskan bahwa kegiatan kopi ini, output dari konsep petani mandiri. Bagaimana olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas, bikin produk dan pemasaran. Ini konsep yang harus saya lakukan karena pola contoh.

Penulis mencoba menjelaskan beda kopi arabika dan robusta, terutama pada karakter dasar. Setelah itu penulis coba mengajak berhitung dari kopi yang sudah mentah sampai ketika sudah diproses. Hitungan ibu-ibu lewat calculator pada hp androidnya bikin terkejut, begitu lihat simulasi angkanya.

Penulis bilang itu baru dari harga pasaran, hitungan itu lah yang akan membuat ibu dan bapak mulai. Karena membangun mimpi itu dengan angka. Forum diskusi penulis buka banyak pertanyaan mulai dari proses kopi dan lainnya.

Usai diskusi dilanjut praktek sangrai kopi manual, karena di Kertosari belum mempunyai mesin sangrai. Penulis juga coba menjelaskan kekurangan sangrai manual. Yang perlu dipahami adalah sebenarnya kemampuan tapung alat sangrai manual dan tangan ketika mengaduk kopinya ketika di tempat sangrai.

Sambil praktek dan bergantian untuk aduknya jadi semakin asik karena terlihat proses kerjasama yang luar biasa. Usai sangrai penulis mengajak peserta untuk icip kopi, untuk mengenali aromanya juga.

Suasana semakin menarik pada mengenali kopi, mulai dari mencium aromanya. Icip kopinya sampai harus menilai memberikan penilaian. Pada akhir pertemuan ditutup oleh Pak Sekretaris Desa dan monggo kalau nanti ibu dan bapak bisa mengusulkan alat-alat kopi biar bisa dianggarkan lewat dana desa, tentunya nanti lewat musrenbang dan syukur bisa jadi skala prioritas sehingga bisa langsung dianggarkan.

Acara ditutup dengan pemberian kenangan-kenangan dari tim KKN Unnes kepada penulis. Itulah “secangkir kopi ada cerita, banyak saudar dan penuh cinta” ha ha ha ha ha

Dari Gerabah Jadi Kekuatan Ekonomi

Dari Gerabah Jadi Kekuatan Ekonomi

Tahun 2011 merupakan sebuah sejarah, karena merupakan awal proses produksi dengan apa adanya. Mengolah jadi bubuk berangkat dari sebuah mimpi besar, dimana waktu itu jual bean asalan ke pasar cuma laku 17.500 rupiah per kilo.

Mimpi itu yang membangkitkan harus proses bikin produk karena sempitnya lahan dengan harapan bisa menambah nilai ekonomi. Kami mulai bikin produk ini apa adanya, dari pengalaman nenek atau orang tua ketika bikin bubuk seadanya.

Sangrai manual harus kami lakukan dengan gerabah dan tungku yang ada didapur, dengan pemanas kayu bakar. Sedikit beda yang kami lakukan dengan nenek, waktu itu nenek kalau sangrai kopi ada penambahan kelapa maupun beras. Kami melakukan dengan tanpa kelapa dan beras, karena ingin membedakan apa yang dilakukan nenek dan produk kami. Disisi lain ada pembeda atau pengembangan produk.

Lahan sempit itu yang selalu terpikir dibenak kami agar mempunyai nilai tambah. Petik jual yang bisa dilakukan orang tua kami jelas tidak ada penambahan nilai. Bahkan kecil sekali untuk bisa meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.

Wirausaha mengolah hasil pertanian jadi sebuah produk merupakan jawaban, agar lahan sempit bisa meningkatkan hasil pertanian. Namun banyak kendala ketika orang akan memulai usaha bikin sebuah produk. Selalu berfikir harus dengan alat yang modern.

Tentunya tidak salah pola pikir harus dengan alat yang bagus. Tapi bagi saya dan istri mencoba untuk mulai dengan apa adanya, karena mulai itu bentuk contoh untuk membuktikan dari konsep kemandirian petani. Tidak berhenti hanya bikin sebuah produk, namun kami harus berfikir bagaimana harus bisa menjual.

Mulai dari facebook yang kami punya selalu digunakan untuk promosi waktu itu. Berkunjung ke rumah teman dengan membawa produk yang hanya dikemas plastik bening. Sinis teman dan ejekan juga muncul, namun bagi kami merupakan motivasi untuk bisa mewujudkan mimpi kemandirian petani.

Kami selalu berfikir kalau diejek dan dicaci berhenti sudah pasti mimpi itu tak akan tercapai atau terlalui. Semua cacian bahkan masukan dari teman yang kami kunjungan jadi catatan agar bisa membuktikan apa yang saya impikan. Bahkan ketika kami bertemu petani juga selalu ceritakan mimpi itu bikin produk itu sudah saya mulai, sampai memasarkannya.

Dapur yang ada dirumah jadi tempat kami untuk mengexpresikan bikin kopi bubuk ala tradisional. Kami juga mengundang teman-teman untuk datang ke rumah sekedar ngopi dengan cemilan seadanya. Tetangga kadang bilang aneh karena apa yang kami lakukan selalu beda dengan kebiasaan petani sekitar.

Tahapan bubuk kopi denga plastik bening, sampai pada stiker itupun kalau kena air luntur, ini selalu terkenang sampai sa’at ini. Gerabah yang awal buat sangrai kopi walau pecah masih kami simpan karena itulah sejarah ekonomi keluarga dan kemandirian petani.

Mulai dari apa yang ada, dari ketidak adaan itu akan menjadikan paham dan menghargai sesuatu. Dari ketidak adaan itu orang akan kuat, dan tak lain konsisten itu akan merubah, dari ketidak adaan menjadi ada. Itulah sebuah usaha, setelah itu hanya berserah kepada yang kuasa.

tags : #kopiTemanggung #kopiarabika #kopirobusta #Temanggung

Berlibur Dan Belajar

Berlibur Dan Belajar

Belajar itu bisa dari mana saja sumbernya. Apalagi belajar yang dilakukan ketika waktu libur dan itu merupakan hobi yang ditekuninya. Waktu berlibur bagi sebagian orang mau mencari tempat rekreasi tapi sekaligus belajar.

Salah satu contoh yang dilakukan 2 mahasiswa dari Bandung yang milih liburannya berkunjung dan menginap di Rumah Kopi Mukidi. Mereka memanfaatkan waktu liburnya sekaligus ingin belajar tentang kopi. Keinginan tahu tentang kopi dari pembibitan sampai ke cangkir.

Mereka berlibur dan menginap di Rumah Kopi Mukidi sampai 3 hari. Belajar bagaimana cara bikin pembibitan, Penanaman kopi dan pemeliharaanya, paska panen, sangrai dan penyajian. Tahapan belajar mereka lakukan dengan asyik tanpa beban mereka tujuan utama berlibur.

Berlibur memang tujuan utama, tapi ketika usai berlibur dan belajar bisa jadi bikin usaha itulah yang namanya hobi bisa menghasilkan.

Perjalanan Kledung Hingga Tlogomulyo

Perjalanan Kledung Hingga Tlogomulyo

Bertemu dengan petani, diskusi kecil untuk membangun kemandirian dan ekonomi merupakan hal yang harus dilakukan. Pertemuan bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, termasuk ketika di ladang.

Via Wa penulis tanya salah satu teman petani yang ahli dibudidaya dan kebetulan juga waktunya luang sehingga bisa jadi teman untuk ngobrol bareng di lahan-lahan petani. Cerita mutu kopi tentunya tidak akan lepas dari Bibit, lalu pada tahap pemeliharaan mulai dari pemupukan hingga perawatan di pohon kopi.

Itulah obrolan kecil penulis dengan pak Yamidi sambil naik sepeda motor. Lewat lereng Gunung Sumbing masih terlihat pohon kopi yang belum maksimal dirawat. Harus kemauan untuk menularkan edukasi secara langsung turun ke lahan milik petani.

Pertemuan di lahan petani kami jumpai ketika sampai Dusun Kwadungan Desa Wonotirto Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Merupakan kebetulan pas kami lewat, petani baru rawat Tembakau dan tanaman kopi mengeliling kebunnya dibatas lahannya. Penulis dan Pak Yamidi berhenti dan menyapa petani dan tanya kenapa kopinya kok dibiarkan saja.

“tidak tahu cara merawatnya” jawaban polos dari petani. Kebetulan gunting pangkas kopi selalu kami bawa. Sosok yang santun dalam merawat kopi penulis minta untuk mempraktekkan bagaimana merawat kopi, tak lain beliau pak Yamidi. Beliau menjelaskan mulai tunas air yang harus dihilangkan sampai pada petik kopi yang merah jangan sampai dengan bantalan buah kopinya.

Setelah petani paham kami melanjutkan perjalannya, menuju salah satu kelompok tani di Dusun Tritis Desa Wonotirto. Pertemuan dengan Kelompok tani cerita banyak tentang temuan tentang bantuan bibit kopi pas kemarin ada kunjungan dari dinas terkait. Hingga pada permasalah kelompok dan lainnya, penulis mengajak ayoo diskusi dilanjut di lahan yang ada kopinya.

Ketua kelompok mengajak salah satu anggotanya yang dulu pernah belajar pangkas kopi di lahan Pak Yamidi ketika ada pembelajaran pangkas kopi. Kebanyakan permasalahan tentang kopi adalah pada perawatan terutama di pemangkasan. Penulis dan Pak Yamidi memberikan contoh pemangkasan sekitar 5 batang kopi, bahkan ditemukan kopi yang kena karat batang. Pak Yamidi memberikan masukan terkait pemeliharaan kopi, jangan urug batang utamanya dengan tanah. “karena ketika batang utama diurug tanah, akan banyak tumbuh akar gimbal, yang rakus hara”, begitu tambahnya.

Perjalan itu tak melelahkan karena perjalanan sambil berbagi dan belajar bersama petani. Belajar mengenali karakter lingkungan dan alam, tentukan akan semakin kenal karakter sosial masyarakat. Itulah bukti “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”, mukidi.

Berguru Sajian Kopi Tradisional

Berguru Sajian Kopi Tradisional

Kopi selalu dicari, dari anak muda hingga orang tua. Kopi jadi teman di meja ketika ngobrol, bahkan kopi merupakan bisnis yang tak akan henti. Dari angkringan hingga kedai yang mewah, bisa dikatakan kopi jadi selera rakyat.
Dalam dunia bisnis ada idealis konsep tapi jangan sampai lupa akan selera konsumen. Selera konsumen itu perlu bidikan yang tepat, meramu atau memadukan kopi dengan es, atau susu. Perpaduan tentunya akan jadi ciri masing masing kedai kopi dan justru disitulah akan muncul ciri khas antar satu kedai satu dan yang lainnya.
Penulis kali ini berguru dengan Guspur, siapa yang tidak tahu beliau. Sosok yang ahli memainkan sajian kopi secara tradisional, dengan rasa yang melekat di lidah konsumen. Guspur panggilan yang akrabnya disapanya, owner dari Kopi Tarik Ungaran.
Sudah lama penulis janjian sama Guspur, tapi baru sempat berkunjung ke padepokannya. Tepatnya hari Kamis, 26 April 2018 baru bisa silaturahmi ke Omah Kopi Guspur.
Guspur ternyata memiliki padepokan, di Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Penulis sebut padepokan karena kedepan tempat ini mau dijadikan semacam sanggar. Dari obrolan dengan Guspur nanti tempatnya bisa untuk semacam pameran produk tapi letaknya di desa, dan masyarakat bisa terlibat langsung.
Pedepokan yang bangunan utama dari kayu dengan bentuk Rumah Joglo ini, menambah suasana semakin nyaman, apalagi terdengar alunan musik gending-gending Jawa. Bangunan yang disekitarnya ada banyak pohon keras seperti sengon dan lainnya, terlihat juga pohon kelapa ketika angin berhembus semakin menambah sejuknya udara disekitarnya.
Obrolan tentang kopi dan lainnya menghanyutkan suasana hingga sore. Penulis mohon pamit dengan sang empunya, dan bagi yang penasaran dengan Guspur serta racikannya silakan kunjungi padepokan tersebut atau langsung datang ke kopi tarik Ungaran.
Penulis ucapkan terimakasih atas ilmunya dan jamuannya, itulah “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara dan penuh cinta”.

Cerita, Bersenyum Bahkan Tertawa Dengan Petani Di Lampung

Cerita, Bersenyum Bahkan Tertawa Dengan Petani Di Lampung

Seminggu yang lalu penulis dapat kontak dari tim Afoco (Asean-Korea Forest Cooperation). Dia cerita kegiatannya, yaitu pendampingan petani di wilayah KPH Lampung. Pendampingan tersebut bekerjasama dengan Pusat Litbang Kehutanan.
Kegiatan agroforestry salah satunya ada tanaman kopi, “o ya saya dapat info dari teman katanya Pak Mukidi petani kopi ya,” begitu kata tim Afoco. Penulis jawab “ya, petani biasa yang terapkan konsep petani mandiri”.
“apakah Bapak berkenan kalau minggu depan ngisi kegiatan kami, membagikan pengalamannya di petani Lampung,” begitu suara via phone. “o ya saya cek dulu kalendernya,” jawab saya. “minggu depan saya kosong,” jawab penulis,setelah melihat jadwal kegiatan.
Akhirnya ditentukan jadwal penulis harus berangkat ke Lampung tanggal 9 – 12 April 2018. Perjalan Jogja – Lampung mundur 2 jam, Alhamdulillah walaupun malam sampai di hotel wilayah Lampung. Baru pagi hari bisa ketemu tim Afoco sa’at makan pagi dan ngobrol tentang pelatihan dan jarak dari Kabupaten Pringsewu ke Desa yang ditempuh kurang lebih 1 ½ jam. Waktu tempuh yang lama ini sehingga menjadikan pilihan karena hari berikutnya harus mengisi materi berikutnya.
Usai makan pagi, tepatnya 07.30 wib, berangkat ke lokasi pelatihan. Perjalan kelokasi sambil melihat pemandangan dan komuditas ada karet, coklat, padi. Dari apa yang terlihat ini membuktikan bahwa Lampung merupakan wilayah yang subur. Melihat nama-nama penunjuk wilayah penulis tidak asing dengan namanya, karena hampir namanya persis dengan nama daerah di Jawa, ada Sukoharjo, Banyumas dan lainnya.
Sopir yang jemput penulis saja bahasa Jawanya juga sangat mahir. Suasana keakraban semakin terjadi, bahkan sopir cerita nanti kita didesa bisa pakai 3 bahasa, bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda, kalau Bapak bisa bahasa Lampung jadi 4 bahasa.
Perjalan lebih dari yang direncanakan, dan sampailah di Desa Sumber Bandung Kecamatan Pagelaran Utara Kabupaten Pringsewu. Dilokasi pelatihan petani sudah berkumpul dan beberapa dari KPH Batutegi. Pelatihan dimulai yang membuka acara dan memberi sambutan dari KPH Batutegi, dalam sambutan agar nanti materi pelatihan tentang kopi harus bisa diimplementasikan dilokasi sini.
Sambutan berikutnya dari Pusat Litbang Hutan, bahwa kita menghadirkan ahli kopi semoga nanti ilmunya bisa diserap dan diimplementasikan serta produksi kopi bisa meningkat sehingga akan berdampak untuk kesejahteraan petani.
Hadir juga dari Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Hadirnya dinas terkait tingkat provinsi merupakan apresiasi yang luar biasa terhadap petani. Materi tentang konsep kemandirian petani merupakan pembuka, karena kopi output dari konsep petani mandiri.
Diskusi terjadi usai paparan konsep petani mandiri, bagaimana mulai dan lainnya. Terlihat begitu antusias peserta dengan banyaknya yang bertanya. Penulis coba jelaskan mulai itu berat dan lebih berat adalah menjaga agar selalu konsisten. Karena ketika awal tidak pernah orang melirik bahkan dicibir, bagaimana sebenarnya menganggap bahwa cibiran itu bentuk motivasi.
Paparan berikutnya tentang budidaya kopi, perawatan serta paska panen. Inipun tak kalah seru diskusinya, penulis coba jelaskan jangan sampai mengurangi atau mengalahkan tanaman wajib dari KPH, atau melanggar kerjasama yang telah disepakati. Oke besuk kita lihat kondisi di Lapangan.
Hari berikutnya jadwal kunjungan ke hutan, melihat kondisi pohon kopi dan mempraktekkan pangkas kopi. Terlihat pohon kopi belum maksimal perawatannya. Pohon sekitar kopi ada coklat, mrica dan pala. Luasannya juga tidak sedikit setiap satu orang mempunyai lahan garap rata-rata 1 ha, sungguh luas biasa.
Diskusi di hutan juga seru, karena ada perbedaan nama lokal tentang kopi. Bahkan nama kopi itu mereka kasih nama sesuai dengan yang bawa pertama kali. Penulis coba asumsikan setiap pohon bisa hasilkan berapa mulai dari kopi, pisang dan lainnya. Kalau ini dikelola dengan bagus dan baik pasti mempunyai nilai nominal yang luar biasa.
Sudah dipandang usai tentang proses dikebun dari pangkas dan konservasi diskusi dilanjut setelah makan siang dengan tema yang berbeda. Tema selanjutnya adalah sortasi biji kopi, sortasi ini untuk pisahkan biji yang utuh, pecah, hitam dan lanang. Usai sotasi dilanjut praktek sangrai manual, dengan apa yang ada di desa. Penulis coba jelaskan tanda-tanda kopi sudah matang pas sangrai. Dua kali praktek sangrai dengan hasil yang sama dari hasil kopi sortasi yang utuh dan yang hitam. Ini semua nanti untuk pembeda rasa dan aroma, mana yang menurut bapak-bapak hasilnya bagus.
Materi terakhir coba icip kopi hasil sangrai manual, menurut petani warnanya beda. Karena petani dan masyarakat biasanya kalau sangrai hitam sehingga paitnya sangat tajam. Icip dua kopi yang utuh dan hitam ternyata aroma berbeda dan rasanya, pilihan ternyata jatuh pada kopi yang utuh banyak diminati.
Diskusi sebelum penutupan sangat seru, bagaimana alur bisnisnya, bahkan kalau bikin kopi selera rakyat. Penulis selalu bilang ini idealis dan karakter kopi, bicara bisnis perkopian lihat selera konsumen. Petakan konsumen butuhnya apa, ya kita harus sediakan.
Kesan dan pesan yang mengharukan bahkan ada yang serius, canda tawa jadi sebuah keakraban. Inilah bukti secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta. Tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada tim Afoco, Puslitbang Hutan, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan KPH Batutegi, dan tak lupa kepada peserta semuanya akhirnya salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

Terjun Dan Belajar Bersama Petani

Terjun Dan Belajar Bersama Petani

“ingin tahu persis seperti apa bertani, dan selama ini teman-teman kalau magang selalu ke perkebunan, ini yang membuat saya tertarik untuk belajar dengan petani,” jelas Muhammad farid.
Itu merupakan kutipan ketika Muhammad Farid datang pertama antarkan proposal di Rumah Kopi Mukidi. Muhammad Farid yang lahir di Surakarta, 04 April 1997, mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta. Mahasiswa Fakultas Pertanian program studi agroteknologi, juga hobby membaca,menulis dan memainkan alat musik.
Dari obrolan ingin tahu persis bagaimana dari tanam kopi sampai siap seduh. Penulis coba jelaskan bahwa kegiatan diperkopian yang dilakukan saat ini merupakan bentuk implementasi dari konsep kemandirian bertanian. Olahan lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komuditas di lahan, membuat produk jadi, hingga pemasaran.
Konsep itu merupakan pola contoh, bahkan Farid begitu panggilan akrabnya ingin praktek langsung bagaimana olah lahan sesuai kaedah konservasi dan tahap berikutnya. Farid ingin tahu detail bagaimana buat lubang tanam kopi, jarak tanam dan lainnya.
Penulis mengajak farid ke kebun dengan jarak kebun dari Rumah Kopi Mukidi sekitar 3 km. Perjalan ke kebun KOPI MUKIDI ditempuh dengan sepeda motor, tapi masih harus disambung dengan jalan kaki.
Sambil bawa bibit kopi, cangkul dan pupuk organik penulis dan farid berboncengan seperti petani biasanya. Seragam kebun penulis caping dan iket tak ketinggalan.
Pembuatan lubang tanam, penulis memberikan contoh kepada Farid. Dia tidak tinggal diam, tapi juga mempraktekkannya. Penulis menjelaskan bahwa bagaimana di lahan yang sudah ada tanamannya tetap bisa melakukan olah lahan sesuai kaedah konservasi.
Kunjungan lahan satu dan lainnya pasti akan mempertajam temuan permasalahan. Serta obrolan dengan banyak petani semakin bisa menganalisa persoalan ditingkat petani.