fbpx
Peran Semua Pihak Untuk Kemandirian Petani

Peran Semua Pihak Untuk Kemandirian Petani

Bertemu dengan banyak petani dalam hal ini kepada anggota dan pengurus Lembaga masyarakat desa hutan di Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara dan Purbalingga. Tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada Cabang Dinas Kehutanan wilayah VII Jawa tengah.

Ucapan terimakasih itu sudah selayaknya karena dari kegiatan yang difasilitasinya, sehingga penulis bisa belajar bersama petani. Banyak pelajaran yang didapat dari proses perjalanan tersebut. Belum lama kegiatan berlangsung dan awalnya sederhana, penulis dapat pesan via whatsapp dari Pak Joko salah satu pejabat di Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII Jawa Tengah yang berkantor di Banjarnegara.

Obrolan lewat whatsapp itu berujung agar penulis berkenan membagikan pengalaman tentang kemandirian petani. Kesanggupan untuk membagikan tentang kemandirian petani yang dikemas dengan “Peningkatan Kemandirian LMDH melalui Pengelolaan Tanaman dibawah Tegakan”.

Mulai dengan berkegiatan di LMDH wilayah Kabupaten Wonosobo, tepatnya tanggal 13 Pebruari 2019. Kegiatan yang berlangsung selama, penulis paparkan tentang kemandirian petani dan bagaimana melihat potensi ada di LMDH, terutama kopi.

Paparan tentang kopi mendapat respon positif dari peserta diskusi, mulai dari proses kopi sampai pada pemasarannya. Banyaknya pertanyaan sebagai indikator bahwa metari dapat diterima. Diskusi berakhir dan sesi poto bersama menjadi dokumen yang diabadikan disetiap peserta.

Banjarnegara menjadi tujuan penulis dan harus menjalankan tugas untuk berbagi tepatnya tanggal 19 pebruari 2019. Menikmati perjalanan dengan angkot sungguh hal yang menarik bisa diskusi dengan pak sopir dan lainnya.

Usai dhuhur penulis harus paparkan kemandirian petani dengan kopi. Cerita tentang kopi baik Kopi Temanggung dan lainnya. Tentang budidaya sampai pada pemasaran atau bisa disebut rantai pasar kopi. Tak kalah seru interaksi penulis dengan peserta, bahkan pertanyaan yang sederhana yaitu bagaimana membuat kopi jadi harganya lebih, dan peluang untuk bisa membangun dengan kerjasama dengan berbagai pihak. Sesi poto bersama jadi saksi kegiatan yang difasilitasi Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII di Kabupaten Banjarnegara.

Hari berikutnya tepatnya tanggal 20 Pebruari 2019, kegiatan yang dengan LMDH wilayah Kabupaten Purbalingga. Acara sehari berbagi dengan kemandirian petani dan LMDH sekaligus menggali potensi tentang kopi. Diskusi menarik karena sudah ada yang tanam kopi, namun perawatan belum maksimal.

Dari kegiatan tersebut penulis selalu sampaikan perlu kaderisasi petani. Petani muda dan mau bekerja keras untuk mengolah proses produksi hasil pertanian. Hal yang menarik bagi penulis ketika mau paparan ternyata sudah dapat pertanyaan terkait kopi, dan ini bukti antusias petani dalam hal budidaya kopi. Sesi poto tak ketinggalan untuk menutup acara di Purbalingga, dan penulis sampaikan “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Kopi Temanggung

Kopi Temanggung

poto by mukidi

Kabupaten yang terletak di wilayah Jawa tengah ini potensinya pertanian dan perkebunannya luar biasa. Kabupaten Temanggung yang mempunyai aneka produk unggulan mulai dari kopi, tembakau, vanili dan kayuan.

Kopi Temanggung dengan hamparan yang luas, untuk jenis kopi robusta pada dataran yang rendah. Kopi robusta sentranya mulai dari Kecamatan Pringsurat, Kranggan, Kaloran, Kandangan, Jumo, Gemawang, Candiroto, Bejen dan sebagian Kecamatan Wonoboyo.

Untuk Kopi Temanggung yang jenis arabika, tumbuh pada dataran tinggi dan kebanyakan tanamnya masih untuk pembatasan lahan antar kebun, konservasi, serta berpaduan dengan tanaman semusim. Jenis arabika ini tumbuh di wilayah Kecamatan Selopampang, Tembarak,Tlogomulyo,Bulu, Parakan, Kledung, Bansari,Ngadirejo, Wonoboyo, dan Tretep.

poto by mukidi

Kopi Temanggung sudah memiliki sertifikat Indikasi Geografis, baik yang robusta maupun yang arabika. Tanda Indikasi geografis yang arabika dengan sebutan kopi arabika java sindoro dan sumbing. Tanda IG untuk robusta, kopi robusta Temanggung.

Artinya kopi Temanggung mempunyai karakteristik yang beda dengan wilayah lainnya. Dalam beberapa lomba kopi nasional untuk kopi Temanggung selalu mendapat rangking. Dalam berbagai kontes internasional juga selalu mendapat nama.

poto by mukidi

Minatntuk tanam kopi bagi petani semakin banyak, ini terlihat banyak program pembagian bibit kopi dari pemerintah maupun pihak swasta. Pertumbuhan kedai kopi di Kabupaten Temanggung semakin banyak, mulai dari yang manual hingga sampai pada yang pakai mesin.

Banyaknya kedai kopi bisa jadi indikator bawa minat untuk konsumsi kopi di Temanggung meningkat. Ada juga kelompok-kelompok tani yang sudah mulai untuk proses kopinya dari gelondong sampai jadi bean/biji kopi.

Kopi Temanggung banyak dipasarkan dalam bentuk biji kopi, biji sangrai, maupun bubuk. Untuk belanja sekarang sangat muda bisa didapat lewat online. Begitulah sekelumit tentang kopi Temanggung dan “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Mencari Ilmu Perkopian di Lembah Posong

Mencari Ilmu Perkopian di Lembah Posong

poto by Rizal

Berawal dari diskusi selapanan kelompok tani mekar tani jaya, Dusun Jambon Desa Gandurejo, Bulu Temanggung Jawa Tengah. Salah satu kesepakatan nya adalah untuk belajar dan melihat ke lokasi kebun kopi di wilayah Tlahap. Penulis mendapat tugas untuk kontak salah satu ketua IG Arabika yaitu Pak Tuhar untuk minta waktu agar berkenan atau memperbolehkan lokasi kebunnya untuk belajar.

Kesepakatan terjadi untuk kunjungan ke lokasi kebun pak Tuhar yaitu hari Kamis, 24 Januari 2019. Hari yang ditentukannya sampai dan mekar tani jaya berkumpul sesuai dengan yang disepakati.

Dua kelompok dari Gandurejo Bulu terdiri dari wanita tani puspa dan mekar tani jaya menimba ilmu ke lokasi kebun kopi posong milik pak Tuhar. Selama 3 jam terdiri dari paparan tentang kopi dan praktek lapangan. Kunjungan lapangan ini didampingi dari penyuluh lapangan dari Kecamatan Bulu Muhammad Ikraf.

poto by Rizal

Tak ketinggalan juga penyuluh lapangan dari Kecamatan Kledung juga menyambutnya. Dalam sambutannya Ikraf begitu panggilan akrab dari Muhammad ikraf, menyampaikan bahwa ini proses belajar, dan harus optimis bisa mewujudkan kebun seperti milik pak Tuhar.

Tuhar sendiri selaku pemilik kebun memberikan gambaran tentang kopi dan analisa ekonominya dari sisi budidaya kopi. Dalam lahan yang dikelolanya terlihat kopi berpaduan dengan cabai, dan terlihat juga bekas sogol atau pohon tembakau. Tuhar menunjukkan dan memberi tanda salah satu pohon yang pernah panen 40 kg kopi basah.

Usai paparan dari Tuhar juga masih ada paparan tentang pola Tlahap dari Yamidi. Dalam paparan dijelaskan bahwa dulu awal sejarah kopi masuk ke Tlahap untuk adalah untuk konservasi lahan, sekitar tahun 1998. Beberapa tawaran awal mulai dari aneka pohon dari pemerintah yang akhirnya masyarakat memilih kopi.

Yamidi juga menjelaskan teknis menanam dan memangkas kopi. Mulai dari pangkas bentuk, pangkas produksi hingga pangkas peremajaan. Terjalin diskusi usai paparan dari pak Tuhar dan pak Yamidi.

Acara selanjutnya pembagian kelompok untuk praktek pangkas kopi. Kelompok dibagi 3, dan praktek pangkas masing-masing dipandu Pak Tuhar, Pak Yamidi, dan Pak Kuwato ppl dari wilayah setempat.

Nampak antusias kelompok mekar tani jaya dan kwt puspa dalam melakukan praktek pemangkasan. Itu terbukti mereka sangat aktif terlibat proses interaksi dengan pemandu dalam praktek. Semangat-semangat dalam menimba ilmu hingga ke lembah posong dengan harapan bisa menerapkan di Gandurejo. Harapan dan mimpi-mimpi untuk bisa mewujudkan atau menambah kesejahteraan rumah tangga petani dan menyelamatkan lahan dari erosi harus segera diimplementasikan. Itulah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Selangkah Realisasikan Mimpi

Selangkah Realisasikan Mimpi

Proses diskusi merupakan sebuah langkah untuk menuangkan ide-ide. Gagasan mungkin bisa dianggap sepele, karena perlu langkah contoh, dan bukti yang bisa dilihat. Konsep-konsep itu perlu dalam langka membangun kemandirian petani, yang pada akhirnya akan berdampak peningkat kesejahteraan pada diri keluarga petani.

Berangkat dari pertemuan selapanan atau per 35 hari ketemu, sering sharing sehingga akan ada perubahan pola pikir. Kadang perubahan pola pikir sudah ada tapi keberanian mengambil tindakan belum ada karena tampil beda dengan keluarga tani lainnya.

Tukijan, Trimo, Sio, Saifudin dan anggota “mekar tani jaya” Jambon Gandurejo Bulu Temanggung, Jawa Tengah. Mereka mulai berani mengambil sikap untuk menanam kopi dan alpokat. Tukijan yang kebunnya bersebelahan dengan penulis ternyata mengalami tanaman kopi milik penulis. Dari cara pangkas, pemupukan dan lainnya.

Melihat merupakan proses belajar yang luar biasa, kini Tukijan pekarang yang satu ditanami kopi dan ada alpokat. Januari 2019 mekar tani jaya menanam kopi dan alpokat dengan harapan bisa menata lingkungan dan ekonomi. Semangat dan antusias mereka terlihat sekali ketika ambil bibit langsung ditanam pada lahan masing-masing, karena mengajar masih dalam musim hujan.

Langkah memadukan komoditas tahunan ini bentuk menata penghasilan yang akan jadi tabungan. Sehingga dalam satu lahan akan tercipta panen musiman dan tahunan. Langkah merealisasikan sebuah mimpi merupakan tahap awal ketika mereka mulai menanam.

Tentunya masih ada tahap belajar lainnya yaitu merawat sampai pada menghasilkan sebuah buah. Ujian selanjutnya tak lain menjaga konsistensi dan tahan godaan. Berubah untuk memperbaiki diri itu lebih baik, tentunya menuju perbaikan lahan dan ekonomi.

Keseriusan lainnya terlihat mulai dari mengatur jarak tanam, dan bahkan ada yang menata terasnya. Semoga selangkah merealisasikan sebuah mimpi pada tahap awal ini akan bisa terlampaui. Itulah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”. Salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

Bangkit Dan Berbenah “Mekar Tani Jaya”

Bangkit Dan Berbenah “Mekar Tani Jaya”

Pertemuan selapanan atau kumpul sekali selama 35 hari, merupakan agenda rutin bagi kelompok “mekar tani jaya” Dusun Jambon Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.

Kelompok yang berdiri pada 8 Juli 2013 dengan nomor registrasi 33.23.020.015.1.05, mengalami proses alami keanggotaan. Kini mekar tani jaya sudah menemukan anggota yang solid dengan pengurusnya juga. Pertemuan pada tanggal 15 Januari 2019, banyak dipaparkan tentang kegiatan yang telah diupayakan pengurus.

Saifudin sebagai ketua kelompok menyampaikan beberapa hal yang telah diupayakan, kegiatan bersinergi dengan dinas terkait maupun kegiatan swadaya. Rohim sebagai bendahara menyampaikan kondisi keuangan kelompok yang berwujud kas, maupun uang yang dipinjam oleh anggotanya.

Peyuluh lapangan dari dinas terkait Muhammad Ikaf memberikan pengarahan banyak dan sangat merespon kegiatan yang sudah dilakukan. Dalam sambutannya Ikaf begitu panggilannya memberikan motivasi bahwa setiap bulan selalu dicuci dengan ilmu, namun ilmu itu harus diprakteknya sehingga akan mempunyai manfaat yang luar biasa.

Ikaf mengajak agar kelompok mengembangkan potensi diri dari mulai pembuatan pupuk organik baik padat maupun cair, sampai pada pestisida nabati. Apa yang disampaikan Ikaf mendapat respon positif dan jadi agenda dalam Januari akhir akan dipraktekkan.

Penulis menyampaikan sedikit berupa upaya untuk menata ekonomi dan lingkungan, dengan tawaran menanam kopi dan alpokat. Tanaman jangka panjang dan mempunyai nilai ekonomi dan ekologi ini dibagikan cuma-cuma, dan responnya juga luar biasa. Upaya lain dengan pengaduhan domba, dengan sistim bagi hasil. Pengaduhan domba untuk anggota mekar tani jaya masih jadi pertimbangan.

Hadir juga dalam pertemuan Bapak Adi pesiunan dari perkebunan yang masih mempunyai semangat untuk berbagi. Dalam acara lain-lain Pak Adi menyampaikan respon yang luar biasa, karena Dia mengamati perkembangan mekar tani jaya. Mulai dari pinjaman untuk kelompok dan antusias anggota untuk bertemu atau berkumpul, dan pertemuan itu sarana untuk belajar, begitu respon pak Adi.

Usai pertemuan dilanjut kelokasi anggota mekar tani jaya yang berminat untuk tanam kopi. Cek lokasi ini bertujuan untuk memastikan jumlah yang mau ditanam terkait dengan luas lahan petani. Pak Adi juga memberikan masukan tentang cara pangkas karena di lahan milik Tukijan sudah ada beberapa batang kopi tapi belum dirawat maksimal. Itulah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”

Melangkah Kebun Kopi Mukidi

Melangkah Kebun Kopi Mukidi

poto by Imam Diko

Kopi Temanggung, disitulah ada rumah Kopi Mukidi. Kedai kopi yang sekaligus juga rumah pribadi, terletak di Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung.

Rumah Kopi Mukidi menyediakan beberapa kopi dari olahan kopi wilayah Kabupaten Temanggung. Kopi dari kebun sendiri dan kopi dari petani sekitar ada di Rumah kopinya yang ditata seperti kedai kopi.

Sebelum mulai aktivitas pagi Rumah Kopi Mukidi melakukan diskusi pagi sebagai bentuk motivasi dan evaluasi kegiatan hariannya. Minggu pagi 6 Januari 2019 belum usai forum pagi sudah datang pelanggan untuk ngopi. “kok sudah pagi-pagi, maaf tunggu sebentar ya, kita masih meeting” begitu salah satu staf di Rumah Kopi Mukidi.

poto by Imam Diko

Karena ini merupakan pelanggan dari Magelang dan sudah sering ke Rumah Kopi Mukidi, Dia langsung menuju lantai dua. Usai diskusi pagi penulis menemani tamu dan diskusi mengalir. Obrolan kecil mulai dari proses perubahan tempat dari tidak ada tanaman kopi yang ditata dipolibag, hingga kini sudah ada. Hingga sebuah mimpi bagaimana untuk kemajuan perkopian di Temanggung.

Dari diskusi sambil melihat kecerahan cuaca pagi itu, pelanggan mengajak untuk diantar melihat kebun kopi Mukidi. Penulis mengajak yang dekat saja ya, pelanggan yang datang termasuk pelanggan lama, kerena sudah lebih dari 3 tahun atau bisa dia tahu persis ketika penulis baru mulai membuat kopi.

Melihat kebun kopi yang kecil ternyata tidak menantang begitu katanya, dan mangajaknya lokasi yang jauh. Penulis mengikuti saja dan menjelaskan tapi jauh dan jalan licin. Perjalanan pelan dan ketika melihat lokasi yang indah berhenti. Penulis juga menunjukkan lokasi kebun keluar kopi mukidi yang sudah mulai pada tanam kopi serta menjelaskan sebuah mimpi membuat kedai di kebun.

Menuju lokasi yang jauh perlu tantangan jalannya licin apalagi penulis pakai motor kecil. Perjalanan kurang lebih 4 km, namun perjalanan menuju kebun Kopi Mukidi selalu para pelanggan menikmatinya sekaligus buat proses belajar. Banyak pengalaman yang didapat ketika menuju kebun Kopi Mukidi, belajar tentang konservasi, belajar tentang aktivitas petani.

Motor tidak bisa sampai kelokasi kebun Kopi Mukidi, masih harus berjalan bagi penulis paling 10 menit, tapi bagi tamu bisa lebih. Tamu agak kelelahan karena lupa bawa air mineral. Sampai dilokasi kebun Kopi Mukidi terlihat kakak dari penulis baru olah lahan tanam komoditas selain kopi.

Kebun Kopi Mukidi dari dulu dikerjasamakan dengan sistim petani boleh tanam komoditas selain kopi, tapi tidak boleh mematikan kopi. Tanpa ada bagi hasil dan sewa tanah, artinya hasil tanaman selain kopi untuk petani penggarap. Mukidi mengembangkan konsep itu sudah lebih dari 11 tahun. Bentuk kerjasama itu sebagai bentuk untuk proses belajar bersama agar petani paham dan melihat bagaimana cara merawat kopi.

O ya bagi yang mau berkunjung atau berjelajak kebun Kopi Mukidi boleh kok, tapi konfirmasi dulu. Untuk konfirmasi melihat kebun bisa hubungi ke no 087 719 052 174. Begitu sekelumit coretan dari jelajah kebun Kopi mukidi dan itulah “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara, dan penuh cinta”

Tahapan Natural Hingga Secangkir Kopimu

Tahapan Natural Hingga Secangkir Kopimu

Ketika bicara paska panen kopi, sudah pasti proses kopi akan jadi tema yang menarik. Salah satunya adalah proses natural, yang banyak dilakukan petani kopi. Tentunya bagi penikmat kopi atau para pemburu kopi harus tahu tahapan proses tersebut.
Menikmati kopi dengan mengenal proses akan semakin menambah wawasan tentang khasanah perkopian. Natural proses yaitu kopi yang sudah buah merah dan dipetiknya. Proses sortasi usai petik yaitu penyeragaman tingkat kematangan buah.
Perambangan buah tak kalah pentingnya untuk memisahkan buah yang bagus dan kurang bagus. Buah yang bagus tandanya yang tenggelam, pisahkan yang tenggelam dan buah kopi mengapung.
Tiriskan dan jemur buah kopi yang tenggelam. Penjemuran proses natural ini membutuhkan waktu lama, bahkan hingga sampai 30 hari. Ketika sudah benar-benar keringnya baru dilakukan pengupasan kulit, dengan mesin kupas atau huller.
Sortasi bean sebelum disangrai sangat penting. Usai sangrai baru digrinder untuk bisa jadi seduhkan kopi. Tahapan proses itu jadi semakin menambah nikmatnya secangkir kopimu. Itulah “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”.

Proses kopi

Proses kopi

Bicara kopi, tentu tak ketinggalan Kopi Temanggung. Kabupaten yang berada di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro ini untuk kopinya sudah memiliki tanda Indikasi Geografis atau IG. Kopi Temanggung mempunyai karakter beda sesuai dengan yang muncul ditanda IG tersebut. Rumah Kopi Mukidi yang beralamat di Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung melakukan beberapa proses kopi.

Proses kopi itu ada banyak macamnya, mulai yang natural, honey proses, wine proses, full wash. Tentunya kopi Temanggung dan petani kopinya juga melakukan proses tersebut. Proses yang sesuai SOP IG arabika maupun robusta tentunya petani sudah melakukannya, dan mengaju pada sop yang sudah dibuatnya.

Kopi temanggung baik arabika dan robustanya sudah memiliki tanda IG. Untuk kopi yang arabika pada wilayah dataran tinggi diatas 800 m dpl. Proses kopi akan berpengaruh pada cita rasa dan aromanya. Proses natural dan proses basah pasti akan beda hasilnya mulai dari visual beannya dan aromanya, serta rasanya, itulah kopi. Pada garis besarnya kopi harus petik merah dulu, baru kemudian proses perambangan. Usai perambangan dilanjut pada ada yang langsung dijemur, dikupas kulit luarnya, usai kupas direndam itulah yang membedakan nama-nama dalam proses kopi.

Untuk lebih detailnya akan dibahas lebih lanjut tiap proses kopi, dan itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Jalinan Silaturahmi, Konservasi dan Lingkungan

Jalinan Silaturahmi, Konservasi dan Lingkungan

poto by Wahyu Ids

Saya mencoba mengingat ketika ketemu dengan Wahyu Ids, peneliti capung. Saya ketemu tahun 2015 ketika waktu ada final lomba kopi yang diadakan oleh asosiasi eksportir kopi Indonesia. Waktu itu bertepatan dengan acara rutin “sepuluh ewu kopi”.

Namun karena sesuatu hal saya tidak bisa melihat jalannya acara sepuluh ewu kopi waktu itu. Mas Wahyu Ids mengenalkan saya dengan pak Iwan sanggar genjah arum. Ngobrol banyak terkait kopi waktu itu.

Perkenalan dengan mas Wahyu Ids, sampai saat ini masih berlanjut dengan kabar dan sapa kadang lewat media sosial bahkan berkunjung ke tempat saya. He he he malah saya sendiri belum pernah berkunjung ke kedai mas Wahyu Ids yang ada di Yogyakarta.

Selasa kemarin, 4 Desember 2018 mas Wahyu Ids, bersama teman-temannya berkunjung ke rumah kopi mukidi di Dusun Jambon Desa Gandurejo Bulu Temanggung Jawa Tengah. Ketika itu saya masih ngobrol banyak tentang penanaman kopi dengan famili saya, penyiapan lahan dan lainnya.

Teman mas Wahyu Ids seorang fotografer yang barusan saja pameran di luar negeri. Setelah ngobrol banyak tentang konsep kemandirian petani saya ceritakan fotografer mulai mengambil gambar-gambar lahan pertanian. Aktivitas petani pagi waktu itu juga menjadi hal yang menarik bagi Poriaman Sitanggang sang fotografer.

Saya dan mas Wahyu Ids ngobrol banyak tentang banyak potensi Temanggung mulai dari pertanian hingga sirklus panen dari tanaman satu ke tanaman lainnya. Kami sambil melihat juga Poriaman Sitanggang menerbangkan drone untuk mengambil lanskap di wilayah rumah saya. Usai pengambilan gambar, Poriaman Sitanggang ingin melihat lagi perubahan lahan ketika saat ini menanam dan dua bulan kedepan perubahannya.

Saya kemudian mengajaknya untuk melihat kebun kecil yang dekat dengan rumah. Saya jelaskan lebih detail tentang konsep kemandirian petani dengan bentuk olah lahan. Bahkan saya juga memberikan contoh beberapa pohon kopi yang sudah dipangkas dan belum dipangkas. Saya juga mencoba menjelaskan tentang olah lahan sesuai kaedah konservasi. Olah lahan sesuai kaedah konservasi merupakan langkah untuk mengurangi tingkat erosi.

Usai saya jelaskan terkait konsep kemandirian dan lainnya, kami menuju kelembah genting. Orang sini menyebutnya Genting, yaitu sebuah jalan dan ketika disitu berdiri saat cuaca cerah dua gunung kebanggaan Temanggung sangat luar biasa. Saya menunggu sesaat dan melihat Poriaman Sitanggang mengambil gambar untuk dokumennya.

Usai ambil gambar dilokasi wilayah Sumbing, kami meluncur ke wilayah Sindoro. Lokasi yang kami tuju adalah blok kopen yang merupakan kebun kopi di Desa Tlahap Kledung Temanggung. Lokasi kebun tepatnya milik Pak Tuhar, pernah buat shooting filosofi kopi. Saya lokasi itu tutup, tapi bagaimana agar kami bisa ketemu dengan pak Tuhar. Saya coba kontak pak Tuhar dan menjawab ya sebentar tak kesitu.

poto by Wahyu Ids

Saya dan teman-teman sambil menunggu pak Tuhar datang sambil melihat kebun kopi yang begitu rimbun dan penataan yang luar biasa. Saya yakin tidak hanya petani yang tertarik ketika melihat kebun kopinya Pak Tuhar, semua orang yang datang pasti tertarik apalagi aroma bunganya akan mengharumkan kedai kopi yang dikelolanya.

Usai Pak Tuhar datang, menyusul anaknya yang bernama wisnu dan trus disuruh menyajikan kopi. Obrolan tentang blok kopen sambil menikmati kopi hasil olahannya tak mengurang semangat ingin tahu tentang blok kopen, walaupun hujan semakin deras. Wilayah sini dulu memang kopi bagus dan wajar kalau sekarang ketika ditanam kembali jadi seperti ini. Tuhar menceritakan banyak tentang karakteristik kopi arabika miliknya yang mempunyai aroma yang beda dengan wilayah lain. Perbedaan tersebut karena banyak faktor, mulai dari tanah dan tanaman sekitar.

Karena waktu Poriaman Sitanggang yang harus ketemu temannya di Jogja, dan waktunya sudah ditentunya dan mohon pamit. Dan berjanji pasti tidak lama akan datang berkunjung lagi. Itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.

Harus Ada Asupan Untuk Kopi

Harus Ada Asupan Untuk Kopi

Makanan itu dibutuhkan untuk semua makhluk hidup, tak terkecuali pada tanaman, termasuk kopi. Kopi merupakan tanaman tahunan, dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Setelah pada tahapan panen dan pemangkasan selanjutnya kopi harus dipupuk.
Saya selaku anggota masyarakat perlindungan indikasi geografis kopi arabika sindoro sumbing, dapat banyak pengalaman pada tataran tentang kopi. Diskusi yang dikembangkan dan untuk menjalin komunikasi melalui grup watshapp, anggota grup mulai dari petani, dan pengelola kopi atau petani yang melakukan dari hulu dan hilir.
Musim hujan tiba dan saatnya kopi harus dipupuk. Banyak teori dalam pemupukan kopi mulai dari pembuatan lubang tanam, ada yang melingkari pohon dan ada yang dengan bikin rorak. Saya sebagai anggota grup dari MPIG KAJSS mencoba lontarkan cara pemupukan.
Sambutan dari para ahli budidaya ada pak Yamidi, seksi budidaya, ada Pak Tuhar selaku ketua, dan tak ketinggalan anggota lainnya Suwandi, dan Didik. Diskusi mulai dari lubang tanam yang harus melihat lokasi kebun. Karena ada yang lahan datar dan miring ini yang perlu diperhatikan. Saran dari pengurus dan anggota penulis lakukan.
Tahap selanjutnya saya lontarkan bagaimana dan pupuk apa yang seharusnya dipakai. Penulis kontak petani kopi dan ada yang bilang pupuk yang baik pupuk kandang jangan yang lembut. Hasil kontak dengan petani itu saya lontarkan di grup dan terjadilah diskusi yang menarik.
Pak Tuhar, menyampaikan pengalaman jaman orang tuanya dulu. Orang tuanya mempunyai 3 orang anak, yang diajarkan untuk membuat pupuk kandang agar jadi bagus. Salah satu dengan cara dengan diremet atau dilembutkan. Dan ada salah satu anak yang membantah dan orang tuanya marah, jengkok atau tempat duduk kecil dari balok. Dari situ pak Tuhar simpulkan bahwa pupuk yang bagus ternyata yang sudah matang dan lembut. Ternyata perlakuan pupuk matang dan lembut simbah-simbah kita sudah dari dulu melakukan.
Apa yang disampaikan pak Tuhar juga direspon oleh pak Yamidi bahwa ketika pupuk yang diberikan ke pohon kopi sudah lembut dan matang, akan mempermudah prosesnya kandungan pupuk diserap oleh akar kopi. Tak mau kalah Suwandi juga menyampaikan pengalaman jaman dulu bahwa orang tuanya tetap kalau bikin pupuk harus lembut.
Grup satunya yang gabungan dari tiga indikasi geografis mulai dari IG Kopi Java Arabika Sindoro Sumbing, IG Robusta, dan IG Srinthil Tembakau Temanggung. Adalah mas Agus yang alumni dari salah satu universitas pertanian di Jogja, memberikan masukan banyak tentang kebutuhan idealnya jika menghendaki hasil maksimal 16 unsur harus terpenuhi.
Banyak manfaat ternyata ketika media grup Wa digunakan untuk diskusi dan pengalaman petani jaman dulu bisa dipakai untuk rujukan. Dengan niatan yang baik untuk membagikan pengalaman dan informasi semoga bisa jadi amal jariyah. Itulah secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta.