fbpx
Dari Gerabah Jadi Kekuatan Ekonomi

Dari Gerabah Jadi Kekuatan Ekonomi

Tahun 2011 merupakan sebuah sejarah, karena merupakan awal proses produksi dengan apa adanya. Mengolah jadi bubuk berangkat dari sebuah mimpi besar, dimana waktu itu jual bean asalan ke pasar cuma laku 17.500 rupiah per kilo.

Mimpi itu yang membangkitkan harus proses bikin produk karena sempitnya lahan dengan harapan bisa menambah nilai ekonomi. Kami mulai bikin produk ini apa adanya, dari pengalaman nenek atau orang tua ketika bikin bubuk seadanya.

Sangrai manual harus kami lakukan dengan gerabah dan tungku yang ada didapur, dengan pemanas kayu bakar. Sedikit beda yang kami lakukan dengan nenek, waktu itu nenek kalau sangrai kopi ada penambahan kelapa maupun beras. Kami melakukan dengan tanpa kelapa dan beras, karena ingin membedakan apa yang dilakukan nenek dan produk kami. Disisi lain ada pembeda atau pengembangan produk.

Lahan sempit itu yang selalu terpikir dibenak kami agar mempunyai nilai tambah. Petik jual yang bisa dilakukan orang tua kami jelas tidak ada penambahan nilai. Bahkan kecil sekali untuk bisa meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.

Wirausaha mengolah hasil pertanian jadi sebuah produk merupakan jawaban, agar lahan sempit bisa meningkatkan hasil pertanian. Namun banyak kendala ketika orang akan memulai usaha bikin sebuah produk. Selalu berfikir harus dengan alat yang modern.

Tentunya tidak salah pola pikir harus dengan alat yang bagus. Tapi bagi saya dan istri mencoba untuk mulai dengan apa adanya, karena mulai itu bentuk contoh untuk membuktikan dari konsep kemandirian petani. Tidak berhenti hanya bikin sebuah produk, namun kami harus berfikir bagaimana harus bisa menjual.

Mulai dari facebook yang kami punya selalu digunakan untuk promosi waktu itu. Berkunjung ke rumah teman dengan membawa produk yang hanya dikemas plastik bening. Sinis teman dan ejekan juga muncul, namun bagi kami merupakan motivasi untuk bisa mewujudkan mimpi kemandirian petani.

Kami selalu berfikir kalau diejek dan dicaci berhenti sudah pasti mimpi itu tak akan tercapai atau terlalui. Semua cacian bahkan masukan dari teman yang kami kunjungan jadi catatan agar bisa membuktikan apa yang saya impikan. Bahkan ketika kami bertemu petani juga selalu ceritakan mimpi itu bikin produk itu sudah saya mulai, sampai memasarkannya.

Dapur yang ada dirumah jadi tempat kami untuk mengexpresikan bikin kopi bubuk ala tradisional. Kami juga mengundang teman-teman untuk datang ke rumah sekedar ngopi dengan cemilan seadanya. Tetangga kadang bilang aneh karena apa yang kami lakukan selalu beda dengan kebiasaan petani sekitar.

Tahapan bubuk kopi denga plastik bening, sampai pada stiker itupun kalau kena air luntur, ini selalu terkenang sampai sa’at ini. Gerabah yang awal buat sangrai kopi walau pecah masih kami simpan karena itulah sejarah ekonomi keluarga dan kemandirian petani.

Mulai dari apa yang ada, dari ketidak adaan itu akan menjadikan paham dan menghargai sesuatu. Dari ketidak adaan itu orang akan kuat, dan tak lain konsisten itu akan merubah, dari ketidak adaan menjadi ada. Itulah sebuah usaha, setelah itu hanya berserah kepada yang kuasa.

tags : #kopiTemanggung #kopiarabika #kopirobusta #Temanggung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *