fbpx
Kertosari Jumo Membangun Mimpi

Kertosari Jumo Membangun Mimpi

Kabar via wa dari salah satu Penyuluh lapangan Desa Kertosari Kecamatan Jumo untuk minta waktunya membagikan pengalaman penulis tentang kopi. Jadilah kesepakatan jadwal, dan nanti surat undangannya menyusul begitu, kabar via wa.

Undangan yang dikirim mahasiswa KKN Unnes, dua hari sebelum acara kegiatan dilakukan, “sambil bilang ma’af ini undangan mendadak”, begitu imbuhnya. Saya jawab “tidak apa sudah dijelaskan sama Bu Tari PPL dari Desa Kertosari Kecamatan Jumo,” jelas saya.

Tepat Hari Rabu 12 September 2018, masih dalam suasana forum pagi yang setiap hari saya lakukan sebelum mulai aktivitas di rumah kopi mukidi. Tim KKN Unnes yang jemput sudah datang, “tunggu sebentar ya,” bilang saya.

Semua cek dan meluncurlah Kami bersama tim KKN Unnes menuju lokasi Desa Kertosari Jumo. Sampai di Kantor Desa Kertosari nampak sudah tertata rapi kursi dan sebagian peserta pelatihan dan terlihat banyak didominasi ibu-ibu rumah tangga.

Kurang lebih jam 10.00 acara baru dimulai dengan dipandu tim KKN Unnes. Sambutan Kepala Desa dan menjelaskan tentang kegiatan ini dibiayai dari Dana Desa. “Dana yang masuk kedesa tidak semuanya digunakan untuk pembangunan fisik saja tapi harus digunakan juga untuk pemberdayaan, salah satunya inilah bentuknya,” jelasnya. “monggo nanti apa yang diinginkan dibuat usulan dan masukkan dalam musrenbang, sehingga bisa dianggarkan untuk tahun berikutnya. Untuk kegiatan ini saya nyatakan dibuka,” tambahnya.

Penulis membuka obrolan dengan sekitar 9 tahun yang lalu pernah ke Kertosari Jumo sebagai TPM dan melihat potensi kopi yang luar biasa. Bahkan pak sekretaris desa juga masih ingat saya, mbah pon juga masih ingat juga, saya juga pernah lihat kambing etawa punyanya.

Saya mulai menjelaskan bahwa kegiatan kopi ini, output dari konsep petani mandiri. Bagaimana olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas, bikin produk dan pemasaran. Ini konsep yang harus saya lakukan karena pola contoh.

Penulis mencoba menjelaskan beda kopi arabika dan robusta, terutama pada karakter dasar. Setelah itu penulis coba mengajak berhitung dari kopi yang sudah mentah sampai ketika sudah diproses. Hitungan ibu-ibu lewat calculator pada hp androidnya bikin terkejut, begitu lihat simulasi angkanya.

Penulis bilang itu baru dari harga pasaran, hitungan itu lah yang akan membuat ibu dan bapak mulai. Karena membangun mimpi itu dengan angka. Forum diskusi penulis buka banyak pertanyaan mulai dari proses kopi dan lainnya.

Usai diskusi dilanjut praktek sangrai kopi manual, karena di Kertosari belum mempunyai mesin sangrai. Penulis juga coba menjelaskan kekurangan sangrai manual. Yang perlu dipahami adalah sebenarnya kemampuan tapung alat sangrai manual dan tangan ketika mengaduk kopinya ketika di tempat sangrai.

Sambil praktek dan bergantian untuk aduknya jadi semakin asik karena terlihat proses kerjasama yang luar biasa. Usai sangrai penulis mengajak peserta untuk icip kopi, untuk mengenali aromanya juga.

Suasana semakin menarik pada mengenali kopi, mulai dari mencium aromanya. Icip kopinya sampai harus menilai memberikan penilaian. Pada akhir pertemuan ditutup oleh Pak Sekretaris Desa dan monggo kalau nanti ibu dan bapak bisa mengusulkan alat-alat kopi biar bisa dianggarkan lewat dana desa, tentunya nanti lewat musrenbang dan syukur bisa jadi skala prioritas sehingga bisa langsung dianggarkan.

Acara ditutup dengan pemberian kenangan-kenangan dari tim KKN Unnes kepada penulis. Itulah “secangkir kopi ada cerita, banyak saudar dan penuh cinta” ha ha ha ha ha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *